Relevansi Pribumisasi Islam Gus Dur

Kedua, gagasan Pribumisasi Islam ini akan menumbuhkan rasa toleransi terhadap suatu perbedaan tafsiran dalam Islam. Mengingat Indonesia sebagai negara yang plural, maka juga akan menuntut kesederajatan antaragama-agama dengan berbagai macam konskuensinya. Adanya sikap toleransi antaragama inilah yang menjadikan Indonesia berdiri dan berdaulat.

Ketiga, menghargai adanya tradisi. Mengingat Indonesia sebagai negara yang majemuk dan memiliki beragam tradisi, maka kita harus melestarikan dan menjaga sebagai suatu warisan local wisdom. Perlu kita ingat bahwa agama Islam pada masa Rasulullah juga dibangun atas penghargaan terhadap tradisi lama yang baik, sebab pada hakikatnya Islam tidaklah memusuhi adanya tradisi lokal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keempat, progresif. Adanya perubahan praktik keagamaan di mana Islam mendapatkan tantangan yang harus dihadapi, sehingga Islam siap menerima dengan lapang dada untuk berdialog dengan pemikiran orang lain sekalipun itu pemikiran orang Barat.

Kelima, pembebasan. Islam menjadi ajaran yang mampu menjawab persoalan nyata yang sedang dihadapi umat manusia secara universal tanpa memandang dari latar belakang agama dan etnik. Dengan semangat pembebasan, maka Islam dapat dikatakan sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin atau menjadi rahmat bagi semesta. Pembebasan tersebut seperti pembebasan dari penindasan, kemiskinan, keterbelakangan, kesenjangan sosial, dan lain sebagainya.

Tanpa kita sadari, menurut Zainal Arifin Thoha, muara dari gagasan Gus Dur tersebut merupakan sebuah sekularisasi bernegara. Apabila kita lacak dari hulu sampai ke muaranya, Gus Dur memang dengan konsisten mengembangkan gagasanya tersebut. Jadi, antara pribumisasi Islam dan sekulerisasi bernegara intinya sama. Cuma penekanannya saja yang berbeda.

Gagasan sekularisasi bernegara tersebut dilemparkan Gus Dur dalam suatu forum diskusi politik di Jakarta pada 4 Februari 1999. Menurut Gus Dur, Indonesia sudah harus menentukan sikapnya apakah mau jadi negara sekular atau negara teokrasi. Dalam konteks ini, Gus Dur memetakan adanya tiga kelompok politik di Indonesia. Kelompok pertama menghendaki militer berperan dalam panggung politik. Kelompok kedua menginginkan adanya dominasi agama dalam ruang bernegara. Kelompok ketiga menghendaki antara agama dan negara harus dipisahkan (baca: negara sekular).

One Reply to “Relevansi Pribumisasi Islam Gus Dur”

Tinggalkan Balasan