Reorientasi Islam (1)

Sebagaimana tindakan kekerasan oleh minoritas yang radikal tidak akan mengaburkan kegiatan-kegiatan mayoritas yang moderat, demikian halnya dengan luasnya dimensi personal revivalisme Islam tidak akan menutupi dimensi-dimensi politiknya.

Bagi banyak Muslim, kembali kepada Islam, berarti kesadaran dan ketaatan yang lebih besar kepada iman mereka: mengkaji Al-Qur’an, salat, puasa, cara berpakaian, Sufisme, menaati Syariat. Bagi sebagian dari mereka ini, pengungkapan Islam yang lebih tegas dalam kehidupan pribadi dan umat secara tidak langsung berarti pengakuan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang tegas antara yang sakral dengan yang profan, yang ruhani dengan yang jasmani.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mereka percaya bahwa pemulihan Islam kepada tempat haknya dalam kehidupan Muslim memerlukan dijembataninya jurang antara agama dan negara lewat penerapan hukum Islam, dan bahwa reorientasi Islam (Islamisasi) negara dan lembaga-lembaganya memerlukan organisasi dan tindakan politik untuk membujuk, menekan, dan memaksa penguasa politik dan agama untuk patuh. Dengan cara yang berbeda-beda, kaum Muslim terus bergulat dengan tugas untuk mendefinisikan kembali kerangka makna yang lebih jelas yang dengannya mereka dapat memahami, menafsirkan, dan merespons pengalaman modern.

Sebenarnya, suatu revolusi Islam terjadi di banyak belahan dunia Muslim. Namun, revolusi yang paling penting dan besar justru bukan revolusi dengan pemboman dan penculikan, melainkan dengan klinik dan rumah sakit. Revolusi ini didominasi oleh para aktivis sosial dan para dai, bukan oleh para prajurit. Perangnya seringkali menggunakan pena, dan bukan dengan pedang. Radikalisme dan terorisme, meski menjadi berita utama di media, sangatlah kecil meski beberapa kali menjadi bagian mematikan dari fenomena yang lebih ditandai dengan revolusi religi-sosial, berbasis luas yang mempengaruhi hampir semua masyarakat Muslim.

Seperti para sepupu Ibrahimi mereka, Yahudi dan Kristiani, banyak Muslim saat ini yang sangat prihatin dengan arus sekular dan pandangan masyarakat mereka serta dampaknya terhadap iman dan nilai-nilai. Demikian pula, penerapan tradisi berusia berabab-abad pada kehidupan modern memberi tantangan baru dan menghasilkan bermacam-macam respons atau mazhab-mazhab pemikiran.

Restorasi Syariat, hubungan yang sangat penting antara iman dan tindakan menjadi agenda bersama seluruh Muslim yang ingin menandingi bahaya sekularisasi, menjaga rasa keimanan dan identitas yang kuat, modernisasi tanpa Westernisasi, dan membantu perkembangan ekonomi yang menghindari ekses-ekses materialisme dengan selalu memperhatikan syarat-syarat keadilan sosial. Interpretasi-interpretasi Islam yang berbeda dan bersaing tidak cuma menghasilkan keragaman yang kaya, tetapi juga konflik-konflik yang memecah belah komunitas Muslim.

Tinggalkan Balasan