Pertanyaannya adalah, instrumen apa yang digunakan melakukan penyebaran Islam secara masif sehingga agama yang baru ini berkembang demikian pesat, menggantikan posisi Hindu-Buddha? Di sinilah, keberadaan pondok pesantren menjadi kunci. Sebab, jika tak ada pesantren, belum tentu situasinya akan terlihat seperti hari ini.
Namun, sejauh ini belum ada kesepakatan bulat soal kapan pertama kali pondok pesantren didirikan. Banyak sejarawan yang menyebut bermula sejak abad ke-14. Tapi, tak sedikit yang memperkirakan bahwa pesantren sudah ada sejak abad ke-9. Pesantren Ampel Denta di Surabaya, yang didirikan Sunan Ampel, sering disebut sebagai yang pertama. Namun, Dayah Cot Kala Perlak di Aceh yang berdiri tahun 899 M (abad ke-9) juga disebut sebagai pesantren pertama di wilayah Nusantara.

Tetapi, entitas seperti pesantren ini memiliki sulur sejarah jauh ke masa lalu, ke masa jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara. Sejak zaman Sriwijaya, Mataram Kuno, Singosari, hingga Majapahit lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren ini sudah ada dengan sebutan yang berbeda-beda. Sekali waktu disebut mandala atau kadewaguruan. Di waktu yang lain disebut pertapaan, padepokan, atau pecantrikan. Yang menarik, apa pun sebutannya, lembaga-lembaga pendidikan tersebut berbasis keagamaan. Atau, secara khusus memang dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan agama.
Sebagai contoh, di ibu kota Kerajaan Sriwijaya, terdapat sebuah “universitas” yang menjadi pusat belajar sarjana dan teolog Buddha dari berbagai bangsa. Perguruan tersebut menampung ratusan pelajar dan sarjana dari mancanegara. Pada masa Mataram Kuno, tak jauh dari Borobudur terdapat pusat pendidikan agama Buddha bernama Janabadra. Lembaga-lembaga pendidikan serupa terus tumbuh dan berkembang hingga masa Kerajaan Majapahit baik untuk mengajarkan ajaran Hindu maupun Buddha.
Karena berbasis keagamaan, maka guru atau pengasuhnya adalah seorang resi, pendeta, atau brahmana. Materi pendidikannya mencakup ajaran agama, teologi, sastra, bahasa, dan ilmu kemasyarakatan. Di lembaga-lembaga pendidikan tersebut juga disediakan asrama atau pemondokan tempat para pelajar bermukim bersama guru-guru mereka. Para pelajar mukim ini disebut catrik atau cantrik, dan tempat belajar mereka disebut padepokan atau pecantrikan. Semua guru tidak digaji, tapi semua murid memiliki kewajiban bekerja membantu guru memenuhi kebutuhan sehari-hari agar pendidikan tetap berjalan. Begitulah relasi guru-murid dalam sistem pecantrikan di masa itu.
Melalui pecantrikan itulah ajaran Buddha dan kemudian Hindu menyebar luas di wilayah Nusantara, menjadi agama yang dianut mayoritas masyarakat sampai senjakalanya Majapahit. Tak ada sistem dan model pendidikan lain yang tersedia ketika itu.
Situasi seperti itulah yang dihadapi para penyebar Islam di masa-masa awal. Mereka pasti melihat dan mempelajari bagaimana Buddha dan Hindu bisa berkembang di bumi Nusantara. Mereka pasti juga melihat dan mempelajari bagaimana ajaran-ajaran Buddha dan Hindu berkelindan dengan tradisi dan sistem kepercayaan lama. Maka, tak ada jalan lain kecuali mengikuti dan mengadopsi cara Buddha dan Hindu untuk mengambil hati masyarakat setempat. Sebab, di Nusantara juga tidak ada preseden perang dan penaklukan atas nama agama. Sesekali terjadi perang lokal, itu semata soal perebutan kekuasaan dan pengaruh di antara para raja yang berkuasa.
Dus, pecantrikan itulah yang menjadi cikal bakal tumbuh kembangnya pondok pesantren. Bisa jadi, begitulah latar belakang berdirinya Dayah Cot Kala Perlak di Aceh pada abad ke-9 dan pesantren-pesantren yang tumbuh kemudian sampai menemukan bentuknya yang ideal, yang secara definitif disebut pondok pesantren dari istilah pecantrikan dan pelajarnya disebut santri dari istilah cantrik.
Tak semua tercatat dan terdokumentasi dengan baik, tapi kita mengenal ada Pesantren Tan Jampes II di Pamekasan, Madura, yang didirikan pada 1062. Lalu ada Pesantren Ampel Denta yang didirikan Sunan Ampel pada 1443 dan Pesantren Al-Kahfi di Kebumen yang berdiri tahun 1475. Pada abad ke-14 dan ke-15, di masa-masa akhir Kerajaan Majapahit, pesantren mulai mengalami perkembangan signifikan, bahkan menjadi tempat belajarnya para pangeran atau masyarakat elite di masa Kesultanan Demak. Di saat bersamaan, Islam telah menyebar secara luas, mulai menggantikan posisi Hindu dan Buddha, dan turut mewarnai tatanan sosial kemasyarakatan. Di masa itu, pondok pesantren telah berkembang menjadi pusat pendidikan masyarakat, terutama dalam pendidikan bidang keagamaan, selain sastra, ilmu kemasyarakatan, dan keterampilan. Belum ada sistem dan model pendidikan lain selain ini.

Pesantren: Pertahanan dan Perlawanannya
Nurcholish Madjid dalam Bilik-bilik Pesantren (1977) membaca, fenomena berdirinya lembaga pendidikan seperti pondok pesantren ini mirip dengan apa yang terjadi di Eropa, kemudian Amerika Serikat, atau belahan dunia lainnya. Universitas-universitas ternama di dunia hari ini, awalnya justru merupakan lembaga pendidikan keagamaan. Misalnya, Universitas Bologna di Italia dan Universitas Oxford di Inggris yang didirikan pada abad ke-11. Keduanya didirikan oleh tokoh-tokoh gereja yang dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan agama. Begitu pula dengan Universitas Harvard dan Universitas Yale di Amerika Serikat yang didirikan pada abad ke-17 dan ke-18. Awalnya, semuanya merupakan lembaga pendidikan tinggi keagamaan yang kemudian berkembang menjadi universitas umum ternama di dunia.
Berdasarkan fenomena tersebut, Nurcholish Madjid yakin seharusnya pondok pesantren terus berkembang seperti halnya Universitas Bologna, Universitas Oxford, Universitas Harvard, Universitas Yale, dan lain-lainnya. Pendeknya, pondok pesantren seharusnya berkembang menjadi pusat kajian ilmu seperti halnya universitas-universitas ternama tersebut. Namun, semua itu tak terjadi dan sejarah berbelok arah. Ketika pesantren masih dalam ketradisionalannya, universitas-universitas umum keburu bermunculan.
Yang membuat sejarah pesantren berbelok arah tak lain adalah datangnya kaum penjajah, terutama Belanda, mulai abad ke-17 dan seterusnya. Tesis Nurcholish Madjid ini memang perlu pengujian lebih lanjut. Tapi, sepanjang masa penjajahan itu, memang, pesantren terpaksa harus mengambil posisi baru: bertahan dan melawan. Ada dua hal penting yang memaksa pesantren mengambil posisi bertahan dan melawan.
Pertama, Belanda menegasikan eksistensi pesantren dengan cap sebagai lembaga pendidikan tradisional dan kolot. Karena itu, di pusat-pusat kota, Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah modern dengan sistem kelas. Salah satu tujuannya adalah untuk menyediakan tenaga kerja pemerintahan kolonial. Dus, inilah untuk pertama kalinya pesantren sebagai lembaga pendidikan memperoleh saingannya.
Kedua, dalam perkembangannya, Belanda mencurigai pesantren menjadi pusat penolakan dan perlawanan terhadap kehadiran kaum penjajah, yang kebetulan memang berbeda keyakinan dan agama. Konsekuensinya, pesantren selalu diintai dan ditekan agar tak bisa berkembang.
Menghadapi situasi seperti itu, mula-mula pesantren mencoba untuk tetap bertahan. Salah satunya dengan cara menyingkir dari pusat-pusat kekuasaan atau pusat-pusat kota. Akhirnya, selama dijajah Belanda, banyak pesantren didirikan di daerah-daerah pedalaman. Dengan memilih daerah pedalaman, pesantren akan terhindar dari jejaring pengawasan dan kontrol pemerintah kolonial. Selain itu, sekaligus, dengan berada di pedalaman, pesantren menjadi benteng pelestarian tradisi, budaya, dan agama masyarakatnya. Dengan cara seperti itu, pesantren akhirnya mampu bertahan, dan malah menjadi pengayom bagi masyarakat yang sedang terjajah, yang juga tak memiliki akses terhadap pendidikan.
