Pada perkembangannya, setelah menyingkir ke pedalaman, pesantren tak hanya mampu bertahan sebagai lembaga pendidikan, tapi justru berkembang menjadi pusat perlawanan, perlawanan terhadap penjajahan. Bukan hanya menjadi obor ilmu, pesantren juga berkembang menjadi pengobar semangat juang, nasionalisme. Banyak tokoh pergerakan dan pejuang kemerdekaan yang bersumber dari pesantren. Itulah kenapa, baik di masa penjajahan Belanda maupun Jepang, banyak tokoh pesantren yang dibui atau ditembak mati. Banyak pesantren yang diserbu dan dibakar. Dibumihanguskan. Tapi pesantren tetap bertahan dan melakukan perlawanan, sampai akhirnya Negara Republik Indonesia mencapai kemerdekaannya. Dari situ terlihat keberadaan pesantren merupakan keniscayaan sejarah. Ia ada karena sejarah menuntutnya ada.
Lapis-lapis Transformasi Pesantren

Ternyata jejak kolonialisme tak sirna begitu saja setelah para penjajah angkat kaki dari Bumi Pertiwi. Di masa awal kemerdekaan, masa Orde Lama hingga Orde Baru, masih banyak kalangan yang memandang pesantren dari kacamata penjajah. Ia masih dipandang dengan sebelah mata, dengan sinisme. Ia dipandang sebagai yang kuno, tradisional, kolot. Sebutan “kaum sarungan”, yang dilekatkan pada orang-orang pesantren, adalah sebuah peyorasi untuk menuding pesantren sulit diajak maju, menjadi modern, karena masih berkukuh pada tradisiolitasnya. Sarung adalah simbolnya. Bahkan, gerakan pembasmian penyakit “TBC” (takhayul, bidah, c[k]hurafat) sejujurnya dialamatkan pada pesantren.
Puncaknya, hampir sepanjang masa Orde Baru, pesantren tetap menjadi komunitas yang terpinggirkan, dianaktirikan, bahkan tetap dicurigai sebagaimana pada masa penjajahan. Sementara, lembaga-lembaga pendidikan modern terus dimanja dengan berbagai anggaran dan program pengembangan, pesantren dibiarkan berjuang sendiri untuk menghidupi dirinya sendiri. Maka, sampai dengan masa itu, pesantren menjadi institusi yang sangat mandiri, independen, dan selalu menjaga jarak dengan pusat kekuasaan. Nyaris tak ada pesantren yang menerima bantuan dari pemerintah. Yang banyak justru menolaknya.
Sesungguhnya pesantren bukanlah entitas yang beku. Di samping harus tetap bertahan, pesantren juga telah membuka diri terhadap perkembangan zaman. Responsivitas pesantren akhirnya menjadi salah satu cara untuk bertahan. Maka jika ditelusur dari akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 hingga hari ini, sesungguhnya telah banyak pesantren yang melakukan transformasi. Misalnya, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang pada 1919 sudah mengadopsi sistem klasikal seperti lembaga pendidikan modern. Bahkan, pada 1929, di Tebuireng sudah dimasukkan mata pelajaran umum. Hal yang sama juga dilakukan Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Lirboyo Kediri pada awal abad ke-20. Tren serupa terus diikuti banyak pesantren besar lainnya.
Namun, harus dicatat bahwa transformasi yang terjadi di lingkungan pesantren sangat beragam, alih-alih seragam. Sebab, setiap pesantren memiliki keunikannya sendiri. Tidak ada pesantren yang persis sama dalam segala. Karena itu, transformasi yang terjadi di lingkungan pesantren berlapis-lapis, mulai dari yang masih sangat salaf dan tradisional seperti aslinya, hingga yang “ultra modern”.
Berdasarkan data resmi, saat ini ada sekitar 42.000 pesantren di seluruh Indonesia. Dan, seluruh pesantren tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu pesantren salafiyah (tradisional), pesantren khalafiyah (modern), dan kombinasi keduanya. Tapi sangat mungkin jumlah yang sebenarnya lebih dari data resminya, dan keberadaannya lebih kompleks dibandingkan dengan tiga klasifikasi resmi tersebut.
Hari ini, misalnya, masih ada pesantren yang masih seperti padepokan zaman dulu. Ia berada di pedalaman Cirebon, jauh dari pusat keramaian, dan tak ada akses jalan untuk menuju ke sana. Orang harus menyeberangi sungai, atas melompati batu-batu yang terserak di sungai, untuk menuju pesantren tersebut. Tak ada aliran listrik masuk ke sana, apalagi barang-barang elektronik. Termasuk sistem pendidikannya, benar-benar pesantren salafiyah seperti aslinya di zaman dulu. Ia seperti sedang bersembunyi dari hiruk pikuknya kehidupan modern.
Tentu, situasinya jauh berbeda dengan pesantren-pesantren yang sudah modern, bahkan ultra modern. Di Pesantren Tebuireng, misalnya, sudah ada pesantren khusus sains, yang mempersiapkan santrinya menguasai sains dan teknologi –di samping penguasaan ilmu keagamaan yang standar pesantren. Di Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, dibuka kelas-kelas internasional dengan pengantar bahasa Inggris. Karena itu, jebolannya banyak yang masuk di berbagai universitas ternama di Amerika Serikat atau Eropa. Dan semakin banyak pesantren yang mengembangkan model-model pendidikan seperti yang dilakukan Tebuireng dan Amanatul Ummah tersebut.
Di antara dua lapis kutub yang berseberangan tersebut, terdapat banyak lapisan lain dari transformasi pesantren. Ada pesantren-pesantren yang masih mempertahankan kesalafiyahannya, termasuk sistem pengajaran sorogan dan bandongan dengan kurikulum kitab klasik, namun di saat bersamaan sudah mengadopsi instrumen dan institusi modern. Ada pesantren-pesantren yang sekaligus menyelenggarakan sistem madrasi dan sekolah-sekolah umum mulai dari tingkat dasar sampai menengah, seperti SD hingga SMA. Ada pesantren-pesantren yang sudah memiliki universitas umum namun di saat yang sama mengelola ma’had aly dengan kekhususannya (takhasus). Ada pesantren-pesantren yang, di samping mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan, juga mendidik santri-santrinya menguasai keterampilan khusus mulai dari teknologi terapan sampai teknologi digital. Ada pesantren-pesantren yang mengelola kegiatan usaha untuk menopang biaya operasional sendiri. Ada pesantren-pesantren yang mengembangkan perekonomian kerakyatan bersama masyarakat setempat. Ada pesantren yang jumlah santrinya hanya puluhan orang. Tapi tak sedikit pesantren yang menampung santri sampai ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu orang. Itu hanya beberapa contoh untuk menyebut keragamannya.
Dengan responsivitas yang dimiliki, dengan transformasi yang dilakukan, pesantren telah berkembang dengan sangat beragam, jauh melampaui apa yang dipikirkan orang (“Ini pesantren kok tidak mati-mati?”). Dari kacamata tertentu, mungkin akan terlihat ada pesantren yang ketinggalan zaman. Namun, dari sudut pandang lain, banyak pesantren yang telah menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Karena pesantren memiliki keunikan dan kekhasannya sendiri, transformasi dan perkembangannya dimungkinkan berbeda-beda. Karena itu, ketika mengunjungi banyak pesantren bisa dipastikan kita akan menemukan banyak perbedaan, sebanyak pesantren yang kita kunjungi.
Tapi, perlu dicatat, ada hal-hal yang membuat pesantren-pesantren tersebut tetaplah pesantren, yang berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan manapun. Bukan hanya karena ada elemen-elemen yang membuatnya disebut pesantren, seperti kehadiran seorang kiai, adanya santri, tersedianya tempat belajar dan pemondokan, tersedianya kurikulum perkitaban, dan adanya masjid atau musala. Selain ilmu, pesantren juga mengajarkan akhlak, menanamkan adab. Bahkan adab dipercaya lebih tinggi dari ilmu. Karena itu, relasi guru-murid dibangun sedemikian rupa dengan penuh penghormatan dan penghargaan, dan telah mentradisi sedemikian kuat. Dan, yang tak kalah penting, masih adanya keyakinan akan adanya barokah dari para kiai atau guru. Sejauh mana pesantren-pesantren bertransformasi dan berkembang, jika kehilangan hal-hal tersebut, akan hilang pula kadar kepesantrenannya. Itulah hal-hal yang membuatnya disebut pesantren, dan yang membedakannya dengan lembaga-lembaga pendidikan lain.
Quo Vadis Pesantren
Memang, meskipun usianya sudah berabad-abad, tak ada pesantren yang sempurna, seperti tak sempurnanya universitas atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Masih banyak hal yang harus dibenahi, diperbaiki, disempurnakan di lingkungan pesantren. Di sana-sini, misalnya, terjadi perundungan antarsantri, kekerasan antarsantri, atau pelecehan seksual di beberapa pesantren. Di sana-sini, banyak sarana dan prasarana pesantren yang kurang layak, yang terbilang membahayakan keselamatan santri. Di sana-sini, ada pesantren-pesantren yang kesulitan mengikuti perkembangan zaman.
Di tengah keterbatasan itu, di tengah kekurangsempurnaannya itu, sekali lagi, hari-hari ini orang ramai mempergunjingkan bahkan mengolok-olok pesantren –saya dejavu dengan jejak kolonialisme. Terasa ada gerakan yang hendak mendekonstruksi pesantren. Tak perlu lagi ada pesantren, pesantren yang seperti itu. Sebagai gantinya, mungkin akan ditawarkan model-model boarding school, sekolah agama berasrama, dengan istilah yang lebih mentereng: Islamic boarding school. Tapi ia tetaplah bukan pondok pesantren. Karena ruhnya berbeda, napasnya tak sama. Karena itu pesantren harus didekonstruksi. Karena itu, muncul lagi olok-olok seperti zaman dulu, bahwa pesantren itu kolot, ketinggalan zaman, penuh bidah, bahkan menyesatkan.
Lalu apakah pesantren akan terdekonstruksi? Jika melihat lintasan sejarahnya, sangat kecil kemungkinannya, bahkan rasanya mustahil, eksistensi pesantren akan terdekonstruksi. Dengan caranya sendiri, pesantren akan terus bertransformasi, menyesuaikan diri dengan perkembangan dan tuntutan zaman, sembari tetap kukuh berdiri di atas tradisinya. Akan bertransformasi dan berkembang seperti apa, akan sangat tergantung pada tantangan zamannya. Di masa-masa yang akan datang, kita akan melihat perkembangan pesantren yang semakin beragam dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.
