Revolusi Digital dan Kerusakan Mental

Mengapa demikian? Karena mental mereka sudah terbangun mindset “instan” yang mengharuskannya bekerja cepat. Bahkan mirisnya, hidup mereka juga demikian, dijadikan serba elastis dan instan dan tak menghiraukan pentingnya “berjuang.”

Jika pepatah mengatakan satu dayung dua pulau terlampaui, maka saya istilahkan era digital ini dengan satu klik seluruh planet kita kuasai. Interaksi digital membuka ruang yang cakupannya sangat luas. Pertukaran budanya, disintegrasi, radikalisme, hingga fanatisme bermula di sana. Manusia merasa bahwa dirinya adalah subjek dari keberadaan teknologi. Merasa bahwa ia telah mengendalikan kuda liar bernama “teknologi.” Padahal justru sebaliknya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keproaktifan dalam dunia digital membuat sistem semakin mengenal kita, tentang hal yang kita suka dan tidak. Semakin aktif kita di media sosial, maka semakin banyak pula data diri yang kita berikan, yang nantinya akan menjadi alat sebagai objektifikasi.

Sederhananya demikian, kita memiliki sebuah akun—entah Tik-tok atau Instagram. Reels yang kita tonton itu adalah sebuah data diri yang kita berikan pada sistem, dan perlu diingat, kita bagi secara percuma, gratis tanpa syarat.

Dengan begitu, maka sistem akan memberikan lebih banyak reels yang demikian dan terus berganti sesuai keinginan dan dominasi tontonan kita. Sehingga membuat kita candu, secandu-candunya.

Ini bukan sebuah dikotomi untuk melumpuhkan penggunaan teknologi—meski tak akan lumpuh sedikit pun. Hanya sekadar refleksi bahwa kita selaku manusia yang kalau boleh dikata sebagai mahluk paling sempurna dengan akalnya, seyogianya menyadari akan hal-hal atau dampak yang dapat merusak kita, ideologi dan bangsa. Kita terlalu larut dalam kenyamanan sehingga selalu berniat untuk menghindar dari kesusahan dan keterpurukan. Mental pejuang sudah mulai lenyap seiring tak mampunya kita menggunakan pikiran akal sehat yang cemerlang.

Tinggalkan Balasan