Manusia merupakan makhluk sosial. Maka dengan sandangan kata sosial mengharuskannya berinteraksi dengan sesamanya untuk hidup berdampingan dengan saling membutuhkan.
Namun, benarkah manusia adalah makhluk sosial? Belakangan ini, manusia sudah tidak bersosial sebagaimana mestinya. Interaksi sudah semakin buruk dengan berkembangnya teknologi. Manusia bergantung padanya dalam segala hal seolah tak ada sedetik pun melewatkan hidup tanpanya.

Teknologi bukan lantas momok menakutkan yang harus dihindari. Bahkan dengan tidak berteknologi akan membuat kita menjadi pribadi kolot yang akan tergerus perkembangan zaman.
Teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia. Perlu digarisbawahi cuma sebatas “mempermudah” bukan “menggantikan” pekerjaan manusia. Manusia memanfaatkan teknologi bukan sebagai alat untuk meringankan perkerjaan, melainkan sebagai tenaga kerja, pembantu atau asisten rumah tangga untuk melakukan pekerjaannya.
Hal tersebubt merupakan mindset yang terbangun karena candu akan kenyamanan dan kepraktisan sehingga membuat manusia bermalas-malasan. Maka perlu diingat bahwa perlu adanya kontrol diri dari manusia sebagai makhluk pencipta teknologi agar tak mendistorsi, dikontrol teknologi.
Kita harus pandai dalam membedakan dampak teknologi—positif-negatifnya. Kita terlalu menyambut baik kehadiran teknologi di tengah-tengah kita. Teknologi menjadi “pahlawan” dalam kehidupan kita tanpa sedikit pun mempertanyakan, mencermati, dan mengkritisi dampaknya lebih dulu.
