Revolusi Mental dari Pendidikan Pesantren

Hanya bermodal nekat, saya diantarkan menuju sebuah pondok pesantren di daerah Karawang, Jawa Barat, selama satu bulan. Orang lazim menyebut kegiatan tersebut dengan “Ngaji Pasaran”. Bayangan soal bermain di halaman masjid dekat rumah bersama teman-teman pupus sudah. Waktu itu, mengikuti kebiasaan orang dewasa yang menjadi teman baru di pesantren tersebut menjadi pengalaman yang cukup unik. Dewasa sebelum waktunya, istilah itu mungkin sedikit tepat.

Kegiatan pengajian yang cukup padat sebenarnya membuat saya sedikit bosan. Tak jauh beda seperti di sekolah, padahal yang seorang anak kecil harapkan adalah ada waktu untuk bermain meski hanya sebentar. Namun, di sela-sela kegiatan pesantren yang begitu padat, saya sering mencuri-curi waktu supaya bisa bermain atau jajan di kantin. Untung saja, orang-orang di pesantren itu sedikit mengerti. Biasanya, hal itu saya lakukan pada sata pengajian umum yang diadakan di masjid setiap malam selesai salat Isya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak main-main, santri yang datang ke tempat itu berasal dari berbagai pesantren yang berada di sekitaran kampung tersebut. Karena tempatnya cukup sesak, tak jarang para santri yang mengaji duduk di luar masjid, di warung, di tempat ngopi, dan tempat-tempat lain yang masih bisa dijangkau oleh pengeras suara.

Biasanya, saya memilih tempat di sebuah ruko bakso. Memang, ruko bakso tersebut terkenal enak di sana. Sayangnya, semua yang ada dipengajian itu adalah orang-orang dewasa. Hampir setiap malam saya berada di tempat bakso itu selama satu bulan. Kadang-kadang, penjual bakso memberikan satu porsi gratis, mungkin karena iba melihat seorang anak kecil dengan perawakan mungil berada di tengah-tengah orang dewasa, seperti orang hilang.

Tinggalkan Balasan