Revolusi Mental dari Pendidikan Pesantren

Agak sedikit bingung saat itu, kenapa orang tua memilih liburan sekolah untuk saya di sebuah pondok pesantren yang didominasi oleh orang dewasa dan jauh dari rumah. Biasanya, orang tua ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya atau mengontrol anak-anak dalam setiap aktivitasnya.

Namun, kini beberapa hal saya sadari. Bahwa membiasakan hidup di lingkungan pesantren menjadi sebuah kebutuhan di tengah krisis akhlak. Ada mental yang dibangun oleh pesantren untuk santri-santrinya. Selemah-lemahnya mental seorang santri, paling tidak, ia bisa menjadi seorang imam salat atau memimpin tahlil di tengah masyarakat. Artinya, seorang santri sudah terbiasa hidup bercampur dengan masyarakat dan tampil di depan umum. Begitupun yang kini saya rasakan setelah melewati perjalanan panjang tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada tahap selanjutnya, apa pun yang ditempuh oleh seorang santri dalam menjalani kehidupan, dia tetaplah seorang santri, dan identitas tersebut tidak bisa dihilangkan. Mental lain yang didapatkan adalah mampu hidup dalam situasi dan kondisi apa pun. Dengan kebiasaan hidup yang jauh dari keluarga, sederhana, dan memanfaatkan sesuatu yang ada, santri bisa menjalani hidup dalam keadaan susah apalagi senang.

Begitulah, revolusi mental yang sebenarnya berawal dari pola pendidikan di pesantren.

Tinggalkan Balasan