Dalam istilah populer keberadaan santri kalong, digitalisasi pesantren bisa memberikan aturan, metode pengajaran, dan manajemen pengelolaan pesantren mirip dengan sistem luring. Sehingga banyak masyarakat yang mungkin terkendala ruang dan waktu masih tetap bisa menjadi santri, meski hanya secara digital.
