Sementara kebiasaan di pondok pesantren menjabarkan sebuah pertanyaan dengan berbagai landasan kitab dan aliran madzab. Positifnya santri punya wawasan luas mengenai esensi perbedaan, negatifnya masyarakat umum tidak tertarik pada jawaban yang dianggap berbelit dan menghabiskan waktu.
Ketika saya diskusi dengan salah satu kiai di Klaten, alasan tidak gegabah menjawab sesuatu sebab kekhawatiran akan adanya banyak kebenaran berdasarkan tafsir para ulama mazhab. Sehingga landasan santri paling utama adalah memahami filosofi perbedaan tafsir. Agar tidak gampang menyalahkan paham lain yang sekiranya bertentangan dengan ibadah atau amaliyah yang dilakukan.

Sementara terburu-burunya menjawab pertanyaan dapat menyebabkan sikap kebencian terhadap kelompok lain yang dianggapnya menyimpang. Padahal ada dalil tersendiri yang tidak diketahui atau tidak sempat disampaikan oleh ustaz atau ulama yang diikutinya. Itulah kenapa santri jebolan pondok pesantren punya pikiran yang terbuka dan moderat melihat sebuat perbedaan.
Tantangannya, bagaimana pola pikir dan budaya pesatren bisa diimplementasikan secara digital. Memberikan tawaran metode pembelajaran yang menarik namun tetap pada koridor kepesantrenan. Menggunakan rujukan yang jelas secara nasab dan sanad keilmuan. Ruang digital harus menjadi sarana memesarkan ajaran Islam yang toleran agar terbangun budaya persatuan dan menghargai perbedaan.
Sampai saat ini belum ada penawaran mengenai digitalisasi pesantren selain portal berita atau channel YouTube dan media sosial yang mengangkat isu ikhtilafiah dan narasi kebangsaan. Ketika NU Online menyuguhkan aplikasi yang di dalamnya memuat kitab-kitab kepesantrenan, belum ada “kiai digital” yang diberikan mandat mengelola pesantren digital yang juga memiliki “santri digital”.
