Rezeki yang Sesungguhnya

Rina hanya menganggut-anggut pelan masih dengan mimik yang ditekuk. Sebenarnya dia sangat malu menceritakan kisahnya. Namun, cepat atau lambat berita perceraiannya dengan suami pasti akan tersebar di kampung halamannya. Mengingat sekarang dia menetap di sana bersama ibunya tanpa suami.

Belum sempat mereka berdua mengobrol panjang lebar, mendadak ada seseorang masuk ke rumah Husna setelah mengucap salam dengan napas tersengal-sengal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ada apa, Bi?” tanya Husna kepada lelaki bertubuh tinggi itu.
“Tadi Abi lihat mamanya Mbak Rina tertabrak di jalan. Ada yang bilang Mbak Rina ada di rumah, jadi Abi langsung ngebut pulang tadi untuk ngasih kabar ke Mbak Rina.” Napas suami Husna masih belum normal.

“Ya Allah. Kalau begitu saya pamit dulu, ya, Na,” sahut Rina dengan segera seraya memandang Husna dan suaminya bergantian.

“Iya. Hati-hati, ya.” Husna mengantar kepergian sahabat kecilnya sampai depan pintu rumahnya.
***
Malam sudah meminang. Namun, Rina masih saja terpaku di samping gundukan dengan bunga yang masih segar di atasnya ditemani oleh Husna. Air matanya sudah habis mengantar mamanya ke peristirahatan terakhir. Bagaimana tidak? Mamanya meninggal begitu mendadak karena tertabrak oleh motor saat hendak menyeberang jalan. Selama ini hanya mamanya satu-satunya orang yang menjadi tempat keluh kesahnya.

“Yang sabar, ya, Rin. Kita berdoa supaya amal Mama diterima dan diampuni segala dosanya. Yok, kita pulang. Sudah mau Magrib ini,” ajak Husna dengan memapah pelan-pelan Rina.

Tanpa membalas Husna, Rina pasrah hanya mengikuti langkah Husna. Tatapannya kosong. Di tengah perjalanan Rina teringat akan perkataan Husna kala itu.

“Kamu benar, Na. Allah akan menambah rezeki bagi kita yang ikhlas bersedekah. Seperti dirimu, walaupun sederhana, tetap saja ada suami, dan anak-anak saleh yang menentramkan jiwa. Itu adalah rezeki terbesar untukmu.”

Fakta bahwa setiap hari Jumat Husna dan suaminya selalu menyedekahkan sebagian barang dagangannya—gorengan kepada tetangga-tetangga sudah tak diragukan lagi. Semua tetangga sudah mengakui kebaikan Husna dan suaminya.

“Beda dengan aku. Hartaku di kota yang selama ini aku banggakan lenyap disita oleh bank. Suamiku selingkuh dan aku sudah bertahun-tahun menikah juga belum dikarunia anak. Kini mamaku juga pergi selamanya. Aku baru sadar, rezeki yang sesungguhnya adalah ketenangan jiwa,” imbuh Rina.

“Sudahlah. Kamu harus kuat. Mari kita mulai kembali dari nol. Aku siap menjadi tempat keluh kesahmu dan berbagi. Semangat, ya.”

Tinggalkan Balasan