Rezeki yang Sesungguhnya

Masih seperti dulu aura Husna saat bertemu dengan sahabatnya itu penuh dengan senyuman dan semangat. Sudah cukup lama Rina yang sibuk di kota tak kembali ke desa. Setiap ada kesempatan pulang kampung Rina tak pernah mampir ke rumah Rina. Jadi, Husna sangat bersyukur dan bahagia kala Rina berkunjung ke rumahnya itu.

“Kamu apa kabar, Na?” tanya Rina setelah mengurai pelukannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Aku baik alhamdulillah. Suami dan anak-anakku juga baik. Kamu bagaimana?” Husna balik tanya.

“Seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik juga.”

Tak lama kemudian ada tiga anak masuk setelah mengucap salam, lantas mereka menyapa dan mencium punggung tangan Rina dan Husna secara bergantian. Mereka bertiga izin untuk masuk ke kamar mereka masing-masing.

“Wah. sudah besar, ya, anak-anakmu, Na.” Rina terkagum dengan putra-putri Husna yang sangat sopan dan santun.

“Alhamdulillah. Yang sulung itu baru kemarin menyelesaikan hafalan Al-qurannya 30 juz. Yang kedua, baru mau 15 juz. Sedangkan, yang bungsu masih 2 juz hafalannya,” jelas Husna dengan antusias. Bukan bermaksud pamer, dia hanya berusaha menyiarkan Al-quran melalui anak-anaknya. Harapannya, bisa menjadi contoh orang lain untuk semangat menghafal Al-quran.

“Oh, ya, bagaimana dengan kerjaan dan suamimu di kota. Beliau enggak ikut pulang ke sini?” imbuh Husna.

Hati Rina terasa tertusuk oleh pertanyaan Husna. Ingin rasanya dia menjerit dan menangis, mengingat kejadian satu bulan terakhir yang menimpanya.

“Aku baru saja bercerai dengan suamiku, Na,” balas Rina dengan nada merendah dan menundukkan wajah.

“Ya Allah. Maafkan aku, Rin. Aku enggak tahu.”

Tinggalkan Balasan