(1)
Bun,
Kalau tidak teringat wajahmu yang sudah senja hampir dilahap purnama;
Kulitmu yang menyusut kian hari;
Matamu yang cekung dan rambutmu yang memutih
Tentu semangatku untuk bangkit sulit dipacu kembali
Aku seperti sedang berkejaran dan diburu saban hari
Sebelum usiamu dilumat waktu
–dimakan tanah abadi
Bun,
Sampai tiba pada waktunya
Aku tidak tahu caranya bangkit kembali dengan satu kaki
Semangat itu memudar dan ikut dikubur dalam tanah

Tanpamu,
Aku seperti berjalan dengan satu kaki;
dengan satu tangan
Tidak sempurna dan hilang sebagian
(2)
entah berapa banyak dosa-dosa yang kuperbuat
dusta-dusta pada mulut tak henti-hentinya kuujar
ampun, Tuhan
agar sakit yang aku derita tak dideritanya juga
agar sedih yang aku rasa tak dirasanya juga
agar masalah yang mengadangku tak menghunusnya juga
biar segala tangis dan derita aku tampung seorang diri
tanpa diketahui
tanpa membagi
di tempat ini aku tidak baik-baik saja, bu
risau-risau di tanah rantau
tumbang berkali-kali
bu,
tolong bilang pada Tuhan, ampuni aku
(3)
Ma,
Aku lelah sekali
Tapi aku tidak akan menyerah
Hingga berdarah-darah pun akan aku taklukan
Ada janji dalam sanubari yang harus dituntaskan
Tolong bertahan lebih lama lagi, ma
2024.
Ilustrasi: pinterest.
