RINDU YANG TAK PERNAH PULANG
Abah,
sejak kau pulang ke pangkuan Tuhan,
rumah masih berdiri, tapi separo jiwanya pergi.

Tak ada lagi yang membangunkan dengan doa di subuh hari,
tak ada lagi tangan yang menepuk pundakku pelan — “yang sabar, Nak.”
Aku mencari bayangmu di setiap sudut rumah,
di sajadah yang masih berbekas keningmu,
di peci yang kaugantung terakhir kali.
Bah, kalau rindu ini punya suara,
langit pun pasti mendengarnya.
Tidurlah tenang di sana,
biarlah aku di sini yang menjaga rindunya.
