Metode ini bertujuan untuk mengasah rasa bahasa santri dan kemampuan mereka menganalisis redaksi kitab kuning yang gundulan itu. Persoalan ini harus dibuatkan metode khusus karena memang tenanan tidak bisa dicapai dengan metode pertama, yakni ringkasan, yang mana bertujuan untuk menguasai materi.
Akan tetapi, penguasaan materi yang baik, tentu akan jauh lebih memudahkan santri dalam melakukan analisisnya, sembari perlahan-lahan menghaluskan rasa bahasa. Artinya apa? Kedua metode tersebut kalau dilaksanaan bersamaan akan bersinergi dan saling mendukung satu sama lain.

Saya ingat sekali bagaimana dulu ketika awal-awal mengikuti sorogan. Begitu senang. Begitu bangga. Seolah bunga-bunga bermekaran di dalam hati dan otak saya. Tetapi, ada beberapa perbedaan dengan yang berlangsung sekarang. Dulu sorogan dilaksanakan pada permulaan malam, selepas salat maghrib. Bersamaan dengan itu, sorogan Al-Qur’an juga dilaksanakan. Tempatnya bersebelahan. Santri bebas memilih apakah mau sorogan Al-Qur’an dulu atau sorogan kitab dulu. Itu disesuaikan dengan kondisi.
Kalau sekarang waktunya berubah. Sorogan kitab dan sorogan Al-Qur’an sama-sama dilaksanakan sore hari selepas dilaksanakannya jamaah salat ashar, menggantikan rutinitas bandongan akbar yang diampu oleh Qori’in. Kalau dulu hari Minggu sorogan libur, sedangkan sekarang tidak. Minggu sore yang sorogan Al-Qur’an tetap sorogan Al-Qur’an, sedangkan yang sorogan kitab diganti setoran hafalan. Ada yang hafalan nazom kaidah i’rob, nazom balaghoh, ada juga yang hafalan matan kitab Jurumiyah.
Ketiga, Metode Bandongan
Metode ini berfungsi untuk memperbanyak kosa kata dan pemahaman santri. Secara khusus metode ini diterapkan di kelas, bukan di majelis bandongan akbar yang mana dihadiri oleh seluruh santri baik putra maupun putri. Mengapa demikian? Bandongan di kelas bisa membaca maqro’ (teks kitab) sebanyak mungkin, sementara santri memaknai kata per kata. Itu akan membuat mereka tahu banyak kosa kata. Tak hanya itu, santri juga akan tahu cara bacanya. Kalau belum paham, setidaknya sudah pernah dengar. Suatu saat ketika sudah mempelajarinya, tidak asing lagi.
Lain halnya dengan bandongan akbar. Bandongan akbar adalah media tatap muka antara santri dengan Romo Kiai, Gus Faiz, atau Qori’in. Majelis bandongan akbar malam Senin dan malam Kamis yang dulu diampu Romo Kiai langsung, tetapi kini digantikan oleh Gus Faiz. Di mejelis bandongan akbar itu Gus Faiz mengutarakan hal apa pun yang ada kaitannya dengan santri. Di sana Gus Faiz memberi nasihat-nasihat untuk kebaikan santri. Di sana pula Gus Faiz menyampaikan pengumuman-pengumuman yang bersifat umum (maksudnya untuk putra-putri), memberi apresiasi atas raihan prestasi santri-santri, dan lain-lain.
Ada dua majelis bandongan lain selain rutinan malam Senin dan malam Kamis. Kedua majelis itu adalah malam Minggu yang diampu oleh Qori’in dengan kitab Irsyadul Ibad, lalu majelis Minggu pagi yang diampu oleh alumni-alumni pesantren yang setiap minggunya berganti dengan kitab Ta’limul Muta’allim. Sistemnya bergilir. Sistem gilirnya seperti apa untuk sekarang ini saya tidak paham.
Keempat, Metode Diskusi
Dengan berdiskusi, santri ditargetkan punya daya analisis yang tajam dan kemampuan berbicara yang mumpuni. Diskusi membuat santri berlatih berpikir secara sistematis, sehingga dapat berpendapat sekaligus kokoh dalam membela pendapatnya. Gus Faiz mengatakan, metode diskusi inilah yang juga akan memperluas cakrawala wawasan santri. Sehingga, santri bukan lagi bocah-bocah yang jauh sekali tertinggal dalam khazanah pemikiran baik klasik maupun kontemporer.
