Ada beberapa diskusi yang dilaksanakan di sini. Pertama, diskusi akbar. Kedua, diskusi komplek. Ketiga, diskusi kelas. Keempat, diskusi bebas.
Diskusi akbar mencakup khalayak yang sudah tentu juga akbar, diikuti oleh seluruh santri baik putra maupun putri. Pembahasannya tematik. Biasanya mencomot isu-isu yang sedang ramai dibincangkan publik. Namun, pelaksanaan diskusi akbar semacam ini sayangnya tidak bisa terlalu sering. Belum tentu sebulan sekali.

Lain dengan diskusi komplek. Diskusi komplek rutin dilaksanakan sebulan sekali di asrama mahasiswa, setiap malam Minggu ketika santri putri sedang jatah pulang. Ada kelompok yang ditugasi mencari isu dan menjadi pemantik diskusi. Diskusi jenis ini seharusnya menjadi yang paling mentereng dan seru.
Namun ternyata, dalam pengamatan saya selama ini, masih terlalu banyak peserta diskusi yang hanya menjadi pendengar semata, dalam artian enggan mengutarakan pendapat atau mungkin sesungguhnya memang tidak ikut berpikir. Kalau saja semua peserta diskusi aktif mengutarakan pendapat, pasti akan sangat hidup suasana diskusinya. Tidak masalah kalau harus ada silang pendapat, itu hal yang biasa dalam diskusi. Justeru dengan saling mengutarakan pendapatlah nantinya silang pendapat itu bisa diambil titik tengahnya.
Lain lagi dengan diskusi kelas. Diskusi kelas dilaksanakan dengan frekuensi lebih banyak, sebab sekarang hampir semua jenjang kelas punya jam diskusi atau istilah populernya adalah syawir (musyawarah). Artinya, seminggu minimal satu kali. Itu sudah bisa dipastikan. Diskusi kelas menjadi sangat bagus karena ada Qori’ yang bertindak sebagai pemandu dan penengah di akhir sesi diskusi. Kalaupun tidak terpecahkan oleh Qori’, saya akan mengutip kalimat yang pernah diucapkan Almarhum Pak Lutfi, “Mari kita sepakat untuk tidak sepakat.”
Terakhir, diskusi bebas. Diskusi model ini, seperti sebutannya, tidak bisa ditentukan baik waktunya, tempatnya, temanya, bahkan pesertanya. Semua santri berhak duduk bersama setidaknya satu santri lain, sambil ngopi mungkin, kemudian mendiskusikan suatu hal. Diskusi ini, sekali lagi seperti sebutannya, lebih bebas. Karena tidak dalam forum yang resmi, bisa saja diselingi candaan, makan nasi kucing dari angkringan, saling tukar batang rokok, atau pergi ke toilet sebentar.
Sejauh yang saya amati, diskusi semacam ini baru berlangsung kebanyakan antara santri yang sekelas, diskusi sebagai persiapan diskusi di kelas. Memang ada yang secara khusus mendiskusikan sesuatu hal, tentang isu atau topik keilmuan tertentu, tetapi belum banyak. Sekali lagi, belum banyak.
Untuk mendukung metode pembelajaran diskusi yang diusung Gus Faiz dan Qori’in-Qori’at, sudah seyogyanya santri-santri mulai mengadakan diskusi-diskusi di luar diskusi kelas. Diskusi komplek dan diskusi bebas penting untuk juga dihidupkan secara maksimal.
Catatan: Qori’in-Qoria’at merupakan istilah yang digunakan di pesantren kami untuk menyebut ustaz-ustazah.
