Ritual Tahunan Seorang Ibu

JADWAL keberangkatan Ayna ke pondok tiba. Namun, ada suatu ketegangan tak kasat mata antara kami berdua. Sejak pagi, ia tak mau berbicara.

“Kamu tetap akan berangkat hari ini, Na?” Aku bertanya kesekian kalinya, dengan suara serak. Mataku tak henti menatap Ayna yang sibuk memasukkan barang-barang ke dalam tas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ayna hanya mengangguk.

“HPL Mama  tiga hari lagi, lho. Kamu gak mau melihat dulu adik bayi lahir? Bukankah kamu sangat menantikan momen ini?”

Ia menggeleng. “Nggak, Ma. Aku malu sama Pak Kiai,” protes Ayna.

Aku tak menyerah. Luka perpisahan yang kemarin masih belum kering. Hari ini, aku tak sanggup jika sudah harus menerima luka baru lagi.

“Ayolah, Na. Cuma telat sebentar.” Aku terus membujuknya. Ayna tetap menolak.

Lagi-lagi aku hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar. Kadang aku berpikir, untuk apa punya anak banyak kalau harus tetap sendirian di rumah? Aku bukan lagi pengantin baru yang senang jika hanya berduaan dengan suami. Aku adalah ibu dari empat orang anak yang semuanya tinggal jauh, di luar kota, bahkan luar provinsi.

Tanpa terasa, air mataku kembali menetes. Namun, cepat-cepat kuhapus. Aku harus berusaha tegar di hadapan Ayna. Meski ia juga pasti tahu, kemarin-kemarin aku menangisi keberangkatan tiga saudaranya yang lain.

“Kamu takut didenda, ya?” Aku menebak asal-asalan. “Kalau memang benar, Mama tak masalah, Na. Mama sanggup, kok, membayar satu sak semen per hari sebagaimana peraturan pondokmu itu. Asalkan kamu mau menemani Mama barang sebentar.”

Untuk beberapa detik, Ayna hanya mematung. Ia tampak kaget mendengar kata-kataku barusan. Entahlah, aku juga bingung. Keputusasaan telah membuatku tak bisa berfikir jernih.

“Bukan begitu, Ma.” Ia akhirnya angkat suara. “Ayna hanya tak ingin melanggar aturan pesantren. Ayna ingin mendapat keberkahan ilmu. Lagipula, Ayna tak akan banyak membantu meskipun ada di rumah. Masih ada nenek atau tante-tante lain yang akan membantu Mama mengurus adik.”

Mendengar penjelasan itu, aku menyerah. “Ya sudah, tak apa. Mama paham. Maafkan Mama memaksamu berbuat tidak baik,” bisikku lirih. Dalam pelukan, aku bisa merasakan Ayna mengangguk. Sepertinya, ia juga terisak. Aku semakin merasa bersalah.

Tiba-tiba, Ayna melepas pelukan. Dengan suara bergetar, ia berkata tegas. “Ma, masih banyak cara lain kalau memang ingin bersedekah ke pesantren. Jangan lewat jalan ini. Ayna mohon,” pintanya sungguh-sungguh.

Kali ini, giliran tubuhku yang mematung. Teringat semua cuplikan memori tentang anak-anakku yang luput dari perhatian. Kedewasaan Alysa; kepedulian Ayna; hingga perubahan drastis sikap Alwi dan Alwan. Dari yang susah diatur menjadi penurut dan bahkan … cukup romantis. Aku masih ingat, ucapan terakhir mereka sebelum masuk ke mobil dua hari lalu. Alwan masih kangen sama Mama. Alwi juga. Kami sayang Mama.

Air mataku mengalir deras mengenang semuanya.

Detik itu, aku sadar, aku telah kalah berdebat dengan putriku sendiri. Detik itu pula, aku sadar, aku tidak menyesal menanggung semua rasa sakit perpisahan ini. Aku tidak akan menyesal, bahkan kalau harus melewati puluhan kali lagi ritual Sepuluh Syawal. Asalkan anak-anakku jadi orang yang berguna, aku sudah sangat bahagia.

Tinggalkan Balasan