Ritual Tahunan Seorang Ibu

1

PINTU kamar diketuk.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sayup-sayup, terdengar sebuah suara memanggilku, lembut. “Ma? Mama masih tidur? Ayna boleh masuk?”

Dengan suara serak khas baru bangun, aku mempersilakan. “Jam berapa ini?”

”Sudah jam sepuluh,” jawab Ayna sambil membantuku bangkit. ”Ayo, Ma. Sarapan dulu. Mama belum makan apa pun sejak pagi.”

Aku mengangguk. Dengan sedikit tertatih-tatih, kakiku melangkah menuju ruang tengah dan duduk di sofa. Ayna mengekor di belakang. Sekilas, aku menatap cermin. Mataku tampak merah dan bengkak. Mungkin, aku terlalu lama menangis, sebelum akhirnya tertidur.

Di meja, sudah terhidang seporsi bubur ayam. Aroma lezatnya menguar. Entah dari mana Ayna mendapatkannya. Yang pasti, bukan masakannya sendiri. Mungkin, dia berinisiatif membelikan makanan favoritku itu karena khawatir melihatku sengaja mengurung diri di kamar selepas ritual itu selesai.

Ya, sebuah ritual yang tak bisa kuhindari. Ritual bertajuk perpisahan. Ritual yang mau tak mau kujalani sejak tujuh tahun lalu, sejak pertama kalinya aku melepas buah hatiku untuk hidup mandiri di sebuah pondok pesantren.

Dan hari ini, tanggal sepuluh Syawal, seperti biasa, aku baru saja merampungkannya. Lagi.

2

SUASANA begitu hening saat aku mulai menyantap sarapanku. Hanya bunyi kunyahan dan jarum jam yang terdengar. Bahkan, Ayna yang sibuk dengan gadgetnya sambil rebahan di sofa tak mengeluarkan suara sedikit pun. Telinganya disumpal dengan headset.

Aku menghela napas. Perlahan, tanpa bisa ditahan, air mataku kembali menetes. Ah, harus sesakit inikah rasanya perpisahan, Tuhan? Meski ini bukan pertama kalinya, tapi sepuluh Syawal kali ini terasa lebih berat, lebih menyakitkan, dan lebih mengiris-iris perasaan.

Bukan karena aku masih tak bisa menerima keputusan-sebelah-pihak suamiku yang ngotot memasukkan anak-anak ke pondok pesantren. Juga bukan karena aku akan kembali kesepian  di rumah, padahal baru tiga minggu berkumpul dengan anak-anak. Bukan pula karena aku harus bersabar menabung rindu setahun ke depan untuk bisa bertemu lagi dengan mereka. Melainkan, karena pagi ini, aku harus kehilangan tiga anakku bersamaan. Jika tahun-tahun sebelumnya hanya Alysa dan Ayna yang berangkat, kali ini Alwi dan Alwan juga harus berangkat. Bayangkan, tiga sekaligus. Tinggal putri keduaku, Ayna, yang ada di rumah. Itu pun hanya sebentar. Masa liburannya tersisa dua hari.

Mataku menyapu seisi rumah. Sepi, benar-benar sepi. Kemarin-kemarin, di jam-jam seperti ini, masih ada Si Kembar Alwan dan Alwi yang berisik main game, kejar-kejaran, atau berebut gadget. Lalu, biasanya Alysa, putri sulungku, datang dari dapur membawakan cemilan yang ia buat sendiri. Entah itu seblak, bakso aci, siomay, atau sekadar es kelapa muda yang cocok disantap saat tengah hari. Rumah terasa begitu hidup. Begitu hangat.

Aku menyibak gorden di sampingku. Menengok halaman rumah. Belum ada tanda-tanda Mas Arya, suamiku, pulang. Tentu saja, masih jam sepuluh. Mungkin, ia baru selesai mengantarkan Si Kembar ke terminal kabupaten, tempat bus yang akan membawa mereka ke pondok. Jauh di luar provinsi sana. Sedangkan Alysa, bisnya dijadwalkan datang jam dua siang. Kemungkinan Mas Arya baru pulang menjelang magrib. Itu berarti, aku hanya akan berdua dengan Ayna di rumah ini. Sampai ia datang.

Melihat halaman yang lengang, ingatanku terseret pada kenangan beberapa jam lalu. Saat ritual Sepuluh Syawal– begitu aku menyebutnya-terjadi.

Mobil sudah terparkir di halaman rumah. Mas Arya  juga sudah siap di depan kemudi.

Tinggalkan Balasan