Tidak heran jika Gus Reza dari Pesantren Lirboyo pernah mengungkapkan, “Pesantren adalah miniatur Bhineka Tunggal Ika.” Di situlah sejatinya kita perlu memahami bahwa perbedaan adalah suatu keindahan untuk saling menghargai, memahami, melengkapi, dan membangun.
Dalam mengambil keputusan apapun, santri juga perlu mengingat bahwa jamaah atau kumpulan menjadi salah satu hal yang harus dilestarikan untuk membangun sebuah kesepakatan dan membangun solidaritas. Jika kita kembali mengingat hal sederhana yang diajarkan guru-guru kita semasa SD mengenai perbandingan satu lidi dan beberapa lidi yang hendak dipatahkan, kita akan mengingat kembali betapa hebat arti sebuah perkumpulan dan kebersamaan. Sehingga beberapa kumpulan lidi yang telah disatukan jauh lebih sulit dipatahkan dari pada satu lidi.

Begitu juga ketika kita menyadari betapa penting kita berpijak diera keruhnya zaman digital. Tidak sedikit komunitas Wahabi yang mencoba merobohkan keutuhan Bhineka Tunggal Ika dengan sistem khilafah atau cara-cara lihai lainnya dimedia. Tentu, kita sebagai santri perlu menyadari pentingnya berjamaah guna mengikis dan memberantas paham-paham radikalisme yang tengah berekspansi di tengah masyakarakat digital ini. Cara apapun bisa dilakukan sesuai dengan potensi masing-masing. Bisa dengan konten narasi, video, dan visual lainnya. Wallahu a’lam bi shawab.
