Robohnya Ketuhanan Kami

Rupanya, kakek penjaga surau itu tersindir atau galau akan cerita yang dibawa Ajo Sidi. Tragis, ia menggorok lehernya sendiri. Bunuh diri. Mendengar kabar kematian itu, Ajo Sidi mendatangi istri si kakek dengan pesan pendek: “Belikan ia kain kafan tujuh lapis.” Ajo Sidi berlalu begitu saja untuk kembali bekerja.

Siapakah sebenarnya Haji Soleh?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jangan-jangan, Haji Soleh adalah kita: yang lebih memilih miskin asal rajin beribadah; yang lebih memilih memakmurkan masjid daripada memakmurkan anak cucu; yang lupa nasib anak yatim karena terlalu asik memutar tasbih.

Jangan-jangan, Haji Soleh adalah kita: yang lebih memilih berada di tengah kerumunan majlis tabligh di saat orang-orang lain berjuang melawan penyebaran virus Corona; yang mendaku hanya takut kepada Allah dan memprotes penutupan rumah-rumah ibadah, sementara yang lain sedang berusaha menyelamatkan jiwa sesama dengan berbagai cara, dengan penuh kecemasan; yang taat beragama tapi tidak bertuhan.

Ada beda, memang, antara beragama dan bertuhan. KH Chudlori pernah memberikan contoh terbaik. Kiai Chudlori menjadi panutan saat memimpin Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang dirintis sejak 1944.

Suatu hari, serombongan warga desa mendatangi pondok Mbah Chudlori ini. Saat itu, warga terbelah menjadi dua kelompok atas penggunaan dana desa. Kelompok pertama menginginkan agar dana desa digunakan membangun masjid. Kelompok kedua maunya membelanjakan dana desa untuk membeli gamelan. Mereka pun berseteru.

Tinggalkan Balasan