Robohnya Ketuhanan Kami

Jika dana desa dibagi dua, tidak cukup baik untuk membangun masjid maupun membeli gamelan. Orang-orang desa terperanjat kaget saat Kiai Chudlori memutuskan agar uang desa digunakan untuk membeli gamelan lebih dulu. Tujuannya, agar warga guyub, rukun, dan desanya tentram.

“Kalau masyarakat sudah guyub, rukun, dan tentram, masjid akan terbangun dengan sendirinya,” kata Kiai Chudlori. Dan benar saja, tak lama setelah warga guyub, rukun, dan desanya tentram, mereka bergotong royong membangun masjid.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bayangkahlah jika peristiwa itu terjadi hari-hari ini: kelompok yang lebih menginginkan membeli gamelan ketimbang membangun masjid pasti akan mendapat cap kafir, dimusuhi, diperangi. Tak akan terbangun hidup yang guyub, rukun, tentram.

Tanpa dilambari ruh ketuhanan, agama akhirnya hanya akan menjadi sekat yang memperhadapkan sesama. Karena itu, gurunya para sufi, Jalaludin Rumi, sejak dini sudah memberi peringatan melalui syairnya yang masyhur:

“jangan tanya apa agamaku
aku bukan yahudi
bukan zoroaster
bukan pula islam

karena aku tahu  
begitu suatu nama kusebut
kau akan memberikan arti yang lain
daripada makna yang hidup
di hatiku.”

Tinggalkan Balasan