Semakin lama aku menatapnya, semakin banyak pula rasa penasaran yang memberondongku. Sudah banyak barang-barang yang pecah ketika aku sampai di dalamnya, terutama yang terbuat dari beling. Temboknya pun masih terlihat kokoh dari dalam, seolah rerumputan yang menjalar itu berusaha menahannya. Namun tidak untuk lantainya. Di beberapa bagian terlihat retak, termasuk juga lantai di tengah itu, tepat di bawah bubungan lubang berukuran kecil. Aku mencoba menyingkirkan pecahan lantai yang menutupinya. Terdapat gerabah kecil yang sudah terbelah. Aina mengajakku keluar, sepertinya ia mulai ketakutan, karena memang suasana di sini lumayan berbeda dari pada di luar. Aku membuatnya sedikit tenang, dan dia pun tak lagi meronta ingin segera keluar dari gudang ini.
Aku kembali mengambil bongkahan itu, dan menaruhnya di telapak tanganku. Dari luar, silauan mentari sore yang semakin oren menembus kaca jendela yang buram. Aku menimang gerabah itu dan mencoba berpikir jernih mengapa ada sebuah gerabah yang terkubur di sini. Aku tak mau berpikir bahwa gerabah ini adalah penyebab tidak robohnya rumah ini.

Tak lama berselang, angin mulai membawa sunyi. Matahari semakin redup. Mataku pun seakan ditimpa batu besar dan memaksanya tertutup. Aku mencari-cari tangan kecil Aina, namun nihil. Mataku keburu tertutup sebelum tanganku berhasil menyentuhnya.
Aku melihat ribuan cahaya kecil menghampiriku, lalu mereka semakin besar, besar, dan terus membesar hingga akhirnya Ainaku benar-benar hilang. Aku berusaha bangun dengan kepala yang masih puyeng. Mataku tak lagi melihat gudang lusuh itu lagi, namun berbeda. Gudangku kini benar-benar adalah sebuah rumah yang hidup. Lengkap dengan perabotan yang berjejer rapi. Entah berapa lama aku tertidur. Di depanku ada lima sampai enam orang yang khusyuk seolah sedang membaca Yasin. Mataku masih berkunang-kudang dan membuatnya tak bisa melihat secara jelas. Di tengahnya terdapat polok dan menyan yang menjuntai meraih langit-langit rumah.
Aku hanya duduk menyaksikan semua hal yang terjadi tiba-tiba di depanku. Otakku terlalu kecil untuk menangkapnya. Yang kuingat terakhir kali adalah ketika aku dikepung ribuan cahaya kecil yang semakin besar hingga akhirnya aku sadar di tempat ini. Entah ke mana Aina. Ia tak lagi di sampingku. Aku tak tahu ke mana ia pergi. Mungkin ia memilih untuk bermain dengan capung-capung di luar ketika aku tak sadarkan diri tadi. Istriku pasti marah jika nanti aku pulang tak bersamanya.
Aku mencoba keluar untuk memastikan keberadaan Aina. Namun tak kudapati satu pun tanda bahwa Aina ada di sini. Aku keluar tanpa harus menarik gagang pintu, badanku menembusnya. Entah mengapa. Aku sudah terlalu pusing untuk berpikir lebih. Suasana di luar gudangku atau lebih tepatnya kini kusebut sebagai rumah, sangat indah. Bunyi jangkrik mengerik di mana-mana. Aku lupa kapan terakhir kali aku mendengar suara jangkrik. Beberapa rumah warga terlihat seperti di film-film. Temboknya adalah tabing tipis dengan sedikit penerangan dari cahaya obor. Pohon dengan daun yang lebat mengerumuninya. Udara pun masih tercium segar seakan habis ditimpa hujan.
Alunan Yasin sudah rampung mereka baca. Terlihat di tengah-tengah mereka terdapat polo’ kecil dan menyan yang masih menjulang meraih langit-langit. Di dalam polo’ berisi biji-bijian dengan sebutir telur yang tertuntung di atas nasi.
