Rumah Asyrofiyah

“Bu Nyai ada dek? Saya mau sowan.”

“Oh, mari mbak. Saya antar.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketika itu Kiai sedang mengaji bersama para santi di ruang tamu. Zhera hanya memperhatikan sembari sesekali memutar memori ingatannya. Semerbak rindu terasa.

Ketika kegiatan mengaji selesai, gadis santri itu mempersilakan Zhera masuk sembari menghaturkannya pada Kiai.

“Waalaikum salam, silakan mbak,” senyum Kiai mengembang.

“Ibu Nyai ada, Bah?” hatur Zhera santun.

Sejenak Kiai memperhatikan lamat-lamat, seakan ada yang ingin diutarakannya, namun ada keraguan.

“Nak Zhera?” Kiai mengerutkan dahi.

“Iya Abah, saya Zhera.”

“Masyaallah, buk… buk. Ke sini, Bu.”

“Iya, Bah, kenapa?” suara Bu Nyai keluar dari balik tirai.

Kedua wanita itu sempat membeku bertatapan. Lantas berpeluk mesra sembari berlinang air mata.

“Ke mana saja kamu, Nak. Kenapa tak ada kabar,” ucapnya sembari mengajaknya duduk. Tak lama Rima keluar karena ada keributan di ruang tamu.

Dia tak menyangka bila sahabat lamanya akhirnya kembali lagi. Mereka bertiga berbincang lama, saling bertukar cerita. Sedih, letih, dan tawa berbaur, termasuk cerita bagaimana Rima bisa menjadi menantu di sana.

“Lalu bagaimana dengan ayahmu, Nduk?”

“Ayah sudah meninggal dua tahun lalu. Dia meninggalkan segunung utang, sedang istri dan anaknya kabur entah ke mana. Sekarang saya sebatang kara di Jakarta. Tanpa tahu harus pulang ke mana. Dan bahkan tak mendapat jawaban dari ayah atas segala pertanyaan saya,” ujung mata Zhera mulai basah.

Bu Nyai lantas memeluk Zhera dengan erat. Mendekapnya dengan hangat sembari berkata, “Ini rumahmu, Nduk, pulanglah kemari kapan pun kamu mau. Kapan pun langkahmu terasa berat, kapan pun kamu kehilangan arah. Pulanglah, ini rumahmu.”

Tangis Zhera kembali pecah kedua kali. Selama bertahun-tahun bersama kesepiannya di ibu kota, pada akhirnya membawa hatinya kembali. Ke rumah yang kehangatannya mampu menyembuhkan dinginnya kesepian selama ini, bernama Asyrofiyah.

Tinggalkan Balasan