Rumah Hitamku

Ibu seorang yang teramat tegar, tidak mungkin akan menangis jika hal yang dihadapi tidak keterlaluan. Aku sudah menduga pasti itu ulah bapak, sebab sudah beberapa hari mereka sering bertengkar meski hanya sekadar adu mulut biasa. Rasa laparku tetiba hilang melihat ibu terduduk dengan lemas berlinang air mata. Kupeluk erat ibu, pipiku perlahan hangat dihujani bulir-bulir yang kutahan agar tidak  jatuh —namun gagal.

Ibu memelukku, perlahan mengusap punggung dan rambutku. Suara parau yang keluar darinya membuat hatiku semakin teriris. Aku tidak tahu apa gerangan yang membuatku turut berderai air mata, mungkin sebab aku sangat menyayangi ibu hingga tak kuasa melihatnya menangis seperti ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ibu tidak akan meninggalkanmu, Nak. Ibu akan selalu bersamamu.” Jelas aku tidak mengerti apa arti dari perkataan ibu. Aku hanya mengangguk dan terus memeluknya dengan semakin erat.

Malamnya kudapati Mak Cik Leha datang ke rumah —entah kapan ibu mengundangnya— tidak dengan diantar suaminya seperti biasa. Ia datang sendiri dengan raut sedih yang dapat kubaca bahkan dengan sekali lihat saja.

“Mas Sena selingkuh, Ha,” tertahan suara ibu. Mungkin tanpa ibu menjelaskan lebih dalam lagi Mak Cik Leha sudah memahaminya. Ibu menangis lagi, aku dapat mendengarnya meski mataku sudah tidak tertahankan untuk tetap terus terjaga. Aku tertidur.

***

Tiga tahun sudah berlalu begitu saja, namun tidak dengan penderitaan ibu. Semakin hari tampak semakin kurus badannya, mata indahnya yang dulu berbinar terang kini tak pernah seharipun tidak terlihat sayu. Bahkan rambut panjang ibu yang dulu selalu indah terurai sampai ke punggung, kini dipotong cepak hampir mirip dengan gaya rambut lelaki. Aku tidak tahu persis apakah itu salah satu bentuk ibu mengekspresikan rasa sedih —ah bukan sedih lagi, ibuku sudah teramat menanggung perih.

Kesakitan ibu tidak hanya perihal bapak yang selingkuh, itu bahkan baru permulaan dari segalanya. Mulai dari berjudi, mencopet, bahkan sekarang bapak sudah menjadi tangan kanan salah seorang bandar miras di kampungku. Ya, kampungku memang sudah tidak layak disebut kampung. Banyak sekali pemuda hingga orangtua menganggap hal biasa hidup berdampingan dengan para pemabuk serta tukang judi.

Setiap hari bapak hanya menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang siang dan kelayapan semalaman. Aku tahu, di malam hari bapak akan pergi mengantar pesanan miras sesuai perintah bosnya. Lalu di pagi hari dia akan pulang dengan keadaan setengah sadar, bahkan beberapa kali pulang diantar para kaki tangan bosnya sebab bapak sudah tidak sadar.

Tinggalkan Balasan