Rumah Hitamku

Sakit. Sakit sekali ketika beberapa kali rentenir datang menagih utang bapak. Aku menyaksikan ibu diseret, ditampar, hingga pukulan-pukulan lain. Ibu tidak membiarkan aku keluar kamar, aku selalu meringkuk di bawah dipan sambil menangis tersedu. Jeritan ibu memohon ampun semakin menyayat hatiku.

Tidak sampai di sana, ketika bapak pulang dan mendapati sekujur tubuh ibu penuh dengan luka dan lebam maka ibu akan menerima hukuman dari bapak —bukan, bukan hukuman, melaikan luapan dari emosi bapak— sebab menurutnya ibu tidak becus membayar utang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***

Mendung tampak penuh memeluk langit, angin di luar sangat kencang hingga merobohkan pohon pisang di samping rumah. Ibu masih terlelap di atas kursi panjang seraya menyetel radio kesayangannya. Aku sudah menduga hari ini bapak tidak akan pulang pagi. Ah biarkan saja, toh kami pun tidak akan diurusi, apalagi terlintas di benaknya.

Aku berbaring di atas kursi reyot di samping pintu depan. Tidak lama hujan turun begitu deras, hingga kudapati beberapa aliran air mengucur dari sela-sela genting rumahku. Aku sudah malas untuk mengambil ember atau apapun untuk menadahinya. Biarkan saja, yang penting ibu tidak kebasahan.

Aku terlelap entah sudah berapa lama. Hujan di luar sudah mereda, angin pun sudah tidak seberingas tadi. Kudapati jejak kaki yang sudah pasti itu adalah bapak. Aku masih berpura-pura tertidur ketika bapak menengok ke arahku. Perlahan dia mendekati ibu, jantungku berdebar sangat kencang. Entah apa yang aku pikirkan, tetapi aku yakin ibu berada dalam bahaya. Kulihat bapak memegang pisau dapur di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang bantal. Hatiku panas sekali, kepalaku panas, seluruh badanku panas, bergetar diamuk amarah.

Ibu terbangun. Bapak terkejut bukan kepalang. Jleeebb… dengan tepat pisau menancap di punggung, menembus ke dada. Darah mengucur bersamaan dengan bapak yang terjatuh bersimbah darah. Kujatuhkan pisau itu, lalu aku tersenyum lebar dan kukatakan pada ibu, “Tenang saja, Bu, kita sudah aman.”

Yogyakarta, 2021.

Tinggalkan Balasan