Orang tua santri perlu menyadari bahwa pesantren adalah kluster yang belum terpapar Covid-19. Mayoritas pengasuh pesantren dan orang tua mengawali normal baru bertujuan untuk tetap mencerdaskan santri di masa pandemi. Bahkan ada tujuan yang tidak kalah penting yaitu mengisolasi para santri yang sehat agar tidak terpapar Covid-19 di pesantren. Hal tersebut tidak akan terlaksana jika tidak melibatkan peran orang tua. Peran utamanya adalah tidak menjenguk para santri. Kerawanan terpapar Covid-19 akan semakin besar jika para santri kontak fisik dengan orang tua. Hal itu terjadi karena orang tua santri akan berkontak fisik dengan orang-orang yang mungkin reaktif atau positif Covid-19 di sepanjang perjalan menuju pesantren.
Pelibatan masyarakat dan pedagang sekitar pesantren untuk mengawasi santri dan mematuhi protokol kesehatan juga perlu. Pesantren harus bekerja sama dengan masyarakat dan pedagang sekitar untuk membuat kesepakatan dan peraturan terkait dengan pencegahan Covid-19. Hal ini diperlukan karena warga pesantren saling berinteraksi dengan masyarakat dan pedagang di sekitar pesantren.

Yang terakhir, perlu adanya kerja sama pesantren dengan satgas percepatan penangan Covid-19 atau dinas kesehatan terdekat. Perwujudan kerja sama ini bisa dengan pengontrolan kesehatan warga persantren dan pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan. Dengan adanya kerja sama tersebut, akan mengoptimalkan pencegahan dan mempermudah pendeteksian dini orang yang reaktif atau positif Covid.
Kesadaran berbagai pihak akan dampak bahaya Covid-19 perlu ditanamkan. Kesadaran dampak bahaya Covid-19 adalah senjata terbaik untuk melawan pandemi Covid-19. Pencegahan Covid-19 di pondok pesantren tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Semakin banyak yang terlibat dalam penanganan pencegahan Covid-19, maka akan berdampak semakin masif. Seringnya para pengasuh dan pengurus pondok pesantren memberikan materi pencegahan Covid-19 ketika mengaji dan pemberian suriteladan akan lebih efektif daripada sekadar pengawasan atau sanksi.
