Sahabat yang Mengantar ke Surga

Artinya: Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dâri Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.’”

Di sini setidaknya kita bisa paham nasihat Kiai Mujib Imron yang memiliki tafsir yang luas dan memerlukan kajian mendalam. Adapun diksi yang menjadi maksud Kiai Mujib adalah nasihat; bahwa tiap orang yang memberi nasihat adalah sahabat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka nasihat sahabat tidak sembarangan dan haruslah sama dengan maksud. Sebab, agama adalah nasihat, dan nasihat itu untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.

Lebih jelas lagi, Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan syekh Al-Khattabi menjabarkan redaksi hadits tersebut sebagai berikut:

Pertama, Hak Allah. Artinya, nasihat bermakna agama untuk Allah, yakni beriman kepada-Nya, mengagungkan Allah, serta bertakwa kepada Allah. Kedua, Hak Rasul. Artinya, nasihat menjadi agama dengan keimanan atas Nabi Muhammad adalah rasul Allah, dengan kebenaran dan segala apa yang ada padanya. Ketiga, Hak Kitab-Nya. Artinya, nasihat adalah agama dengan iman atas firman Allah (al-Quran) dan dari firman-Nya segala hukum, ilmu pengetahuan bersumber dari al-Quran. Keempat, Hak Pemimpin Muslim. Artinya, pemimpin menjadi nilai nasihat, yang mana pemimpin bertugas membimbing dan mengatur segala urusan sosial yang mengantarkan keselamatan dunia dan akhirat. Kelima, Hak Muslim. Artinya, nasihat dengan pemenuhan hak setiap orang muslim, dengan berbuat adil, saling menolong, serta mengajak untuk lebih menghargai sesama atas Islam yang rahmatan lil alamin.

Karena itulah benar diungkankan KH A Mujib Imron (Insani Pusat), bahwa tidak semua orang adalah sahabat, tapi setiap yang memberi nasihat adalah sahabat.

Sayyidina Umar bin Khattab berkata;

‎ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به

Artinya: Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh, maka peganglah erat-erat.” (Quutul Qulub 2/17).

Tinggalkan Balasan