Salad vs Salat

“Aku mau,” Gafar menyahut. Kebetulan sekali baru terdengar kumandang azan ada orang menawarinya salad.

“Lekas ke kantor pengurus kalau mau. Ditunggu,” punkas Jarot.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Titip satu bungkus,” pesan Zuhri.

“Beres Bos,” Gafar menyahut tangkas.

Gafar bergegas menuju kantor pengurus dengan memakai bawahan sarung serta atasan kaus bertuliskan “Ngaji-Ngabdi-Rabi-Jadi Kiai-Rabi Lagi-Cari Rejeki-Rabi Lagi”, dan tanpa penutup kepala. Di benaknya terlukis sebungkus salad kentang yang menari-nari menggugah nafsu. Langkahnya makin cepat.

Ketika kaki kanannya sudah masuk ke dalam ruangan kantor, seketika ia berhenti. Di situ tampak Pak Kiai Juned sedang bersiap untuk salat ashar dengan makmum beberapa ustad dan santri di belakangnya. Pengasuh pondok yang juga anggota DPRD yang beristri tiga itu memandang Gafar dengan tatapan aneh.

“Oh, maaf Kiai,” pelan-pelan Gafar melangkah mundur. Mukanya terasa menebal.

“Mau salat?” tanya Kiai Juned.

Gafar membungkuk dan terus melangkah mundur.

“Mana saladnya?” tanya Zuhri setibanya gafar di kamar.

Tinggalkan Balasan