Salad vs Salat

“Sudah habis. Maaf,” ia menjawab dengan suara pelan.

“Ah, tak setia kawan,” timpal Zuhri yang padahal baru makan salad beberapa saat yang lalu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kau mau salad yang dibungkus kertas minyak atau kain mori?”

Teman sekamarnya terbahak-bahak. Gafar pun ikut larut dalam tawa.

“Salat-salat-salat! Siapa yang mau salat silakan keluar!” teriak seseorang di emper komplek. Biasanya warga kompleknya mendirikan jamaah salat sendiri di komplek karena jamaah yang di masjid dengan imam para pengasuh pondok salatnya lebih lama. Salat jamaah di komplek itu mereka sebut dengan jamaah swasta. Sedangkan jamaah di masjid disebut jamaah negeri. Hal ini karena salat diimami kiai serta jumlah makmum lebih banyak pahalanya juga akan lebih banyak. Mereka menyebut begini juga karena menyadari banyak santri yang jadi guru sekolah. Sedangkan gaji guru swasta lebih sedikit daripada guru negeri.

Dan semua keluar kamar mendengar ajakan jamaah swasta itu, kecuali Gafar. Dia merupakan santri yang rajin salat jamaah negeri demi memburu pahala serta berkah. Dan tak berapa lama kemudian terdengarlah suara iqomah dari corong masjid. Gafar pun bergegas keluar untuk mengikuti salat jamaah sembari menahan perut laparnya. Dan betapa ia kecewa, ternyata teman-temannya di komplek sedang pesta salad buah yang dibawa salah seorang santri yang baru tiba.

“Bukankah perutmu sudah kenyang salad, Far?” tanya seseorang.

Gafar terus melangkah dengan hati penuh kesabaran.

“Beginilah ujian orang yang beriman,” desisnya.

Tinggalkan Balasan