Dalam urusan masak, menurut Widad sebagai orang yang sangat dekat dengannya, Salma sangat profesional di antara juru masak yang melayani KH Abdul Warits Ilyas dan istrinya, Ny Hj Nafisah yang biasa disapa Nyi Toan/Ibu Nyai. Karena itu, dulu almarhumah Nyi Toan selalu memanggil nya untuk memasak, sambil selalu berpesan jangan membubuhi micin (penyedap rasa dengan merek Ajinomo, Masako, Royko, Sasa, Miwon) dan penyedap-penyedap.
Alasannya, bumbu masak itu mengandung MSG (Monosodiun Glutamat) dengan sederet Ingredient dan cara pengolahan yang menurut dr. Zaidul Akbar memang sama sekali tidak menyehatkan.

Apalahi, saat itu, sekitar tahun 2001, micin banyak dipergunjingkan masyarakat Indonseia karena dianggap mengandung enzim babi. Sampai ada pemboikotan micin yang dalam hal ini bermerek Ajinomoto setelah keluar fatwa MUI yang mengharamkan micin.
Oleh sebab itu, Nyi Toan selalu mengontrol dan mengingatkan para juru masak di dapur agar penyedapnya memakai gula saja. Bukan hanya menu masakan pengasuh yang tidak boleh dibubuhi micin, tapi juga para juru masak sebaiknya tidak menggunakannya juga. Namun, pelarangan tersebut tidak untuk santri secara umum, termasuk penulis.
Namun, larangan tersebut ternyata tidak diindahkan oleh Salma dan kawan-kawannya. Seperti biasa, Salma memasak bersama juru masak yang lain sambil sesekali celingak celinguk melihat ke pintu luar, khawatir kalau-kalau ada Nyi Toan. Setelah dirasa aman, maka Salma mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam gulungan sarungnya yang tidak lain adalah micin. Salma pun berembuk dengan teman-temannya agar hal itu jangan sampai ketahuan Nyi Toan. Dengan jadwal yang telah ditentukan bersama, maka saat memasak, salah satu dari mereka harus ada yang menjaga pintu luar dan bertugas memberi aba-aba kalau Nyi Toan datang mengontrol.
Sebenarnya Salma tidak membubuhi micin kepada menu masakan untuk pengasuh, karena taat dan takut etolaeh (kualat). Oleh karena itu, dia hanya membubuhi micin pada menu masakan untuk diri sendiri dan tentu juga diikuti oleh teman-teman sesama khadimah lainnya. Mengingat, dia juga sudah membaca di koran bahwa Gus Dur telah membolehkan masyarakat mengkonsumsi Ajinomoto.

Sepertinya pengalaman ini tidak akan pernah terlupakan hingga akhir hayat. Ups,,,,
he he…