Lebih lanjut, bentuk culture shock selain di atas juga terkait masalah sikap, ekonomi, dan ketertiban/peraturan. Dari masalah sikap, cara individu di suatu lingkungan bersikap dan bertingkah laku tentu berbeda, hal ini pula akan terjadi culture shock ketika menginjak di lingkungan baru dan bertemu orang dari berbagai daerah. Kategori ekonomi juga dapat menjadi salah satu aspek yang menyebabkan seseorang mengalami culture shock. Perihal kategori peraturan pun demikian, setiap lingkungan punya peraturan masing-masing, maka itu peraturan di lingkungan baru bisa dipastikan berbeda dengan lingkungan lama yang bisa membuat culture shock.
Kehidupan pesantren yang amat kompleks dan majemuk, berpotensi besar untuk menyebabkan culture shock. Hal ini dikarenakan, para santri yang datang menuntut ilmu berasal dari berbagai daerah, suku, dan ras yang berbeda secara sosiologis. Karakteristik santri pun beragam; ada yang egois, usil, peduli, hingga cuek. Di samping itu, peraturan yang diberlakukan pondok cenderung ketat. Pola makan juga dibatasi dan seadanya. Belum lagi, jika posisi pesantren terletak di datatan tinggi, bagi santri yang terbiasa hidup di dataran rendah mesti timbul kekagetan dan tidak nyaman.

Sebetulnya, bila di awal tumbuh kemantapan nyantri dari diri sendiri, itu merupakan modal yang bagus. Orang yang demikian cenderung lebih siap menghadapi segala macam risiko dan konsekuensi yang mungkin timbul sebagai akibat dari keputusannya. Senapas kaidah fikih, ar ridha bisy syai’ ridha bima atawalladu minhu, rida dengan sesuatu maka juga rida terhadap konsekuensi dari sesuatu tersebut. Dalam konteks ini, menghadapi dinamika pesantren.
Namun kembali lagi, orang yang mampu menumbuhkan rasa kemantapan nyantri dari diri sendiri itu tidaklah banyak, cuman segelintir. Karena itu, sangat penting bagi para calon santri dibekali pemahaman tentang perbedaan budaya dan kesiapan mental-emosional. Santri tidak boleh ada lagi yang mengalami problem culture shock. Sebab, hal itu dapat mengganggu konsentrasi, produktivitas, dan menghambat proses ta’lim di pondok.
