“Begini kiai,” jawab seseorang, “ada batu besar yang menjadi penghalang akses jalan menuju pasar.”
Kiai Saiyam tanpa basa basi menghampiri batu yang sangat besar itu. Lalu batu besar itu diangkat dengan tangannya dan dilemparkan ke sungai. Menurut sebagian riwayat, Kiai Saiyam dikenal sebagai sosok yang sakti. Akhirnya orang-orang Belanda lari pontang-panting ketakutan dengan kesaktian Kiai Saiyam, seperti diceritakan Kiai Musahri. Peristiwa terjadi sekitar tahun 1942. Kiiai Musahri pada waktu itu masih berumur 13 tahunan.

Peristwa ini menunjukkan bahwa ilmu linuwih (kesaktian) mempunyai pengaruh kuat terhadap gentarnya lawan. Di antara amalan dalam menggentarkan lawan adalah Pametak Sayyidina Ali dan Pametak Sayyidina Hamzah. Dulu, pada tahun 1999, banyak santri yang masih akrab dengan amalan-amalan hizb bahar, hizb yad, dan lainnya. Namun, di Era Industri 4.0 ini santri mulai jarang mengamalkan ini.
Oleh karena itu, menurut penulis, tradisi mendalami ilmu kanuragan di kalangan santri harus dipertahankan untuk tujuan kebaikan. Namun, tidak untuk disalahgunakan untuk menzalimi orang lain atau membuat diri sombong.
