Santri dan Jurang Media Sosial

Dari sini, sikap kritis santri begitu dinanti dan dibutuhkan. Sikap gegabah dalam artian mudah terpancing untuk ikut arus radikal dan intoleransi yang juga menjadi kepanjangan tangan dari berita hoax bisa diantisipasi. Namun perlu kita ingat bahwa untuk terjun dalam peperangan media sosial, santri tetap diwajibkan merujuk kepada teks dan konteks yang sudah dipelajari di pesantren. Ini diperlukan supaya tidak terjebak pada perilaku yang justru tidak mencerinkan nilai-nilai santun, kebersamaan, tawadhu, dan kebaikan.

Saat ini, pesantren tidak hanya berada dalam pusaran regional-based curriculum yang lebih cenderung mendambakan sikap jauh di langit, tetapi juga mencoba menghadirkan kurikulum yang menyentuh fenomena sosial masyarakat secara langsung (society-based curriculum). Dengan itu, kehidupan pesantren bukan lagi dijadikan sebagai basis pendidikan yang hanya berkutat dalam lingkaran kesucian teologi, tetapi sudah sepatutunya hadir dalam relung dan menjelma fakultas-fakultas sosial, yang perannya nyata dan bisa merespon persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam hal ini, saya mencoba untuk merekomendasikan nilai-nilai pesantren dalam perhelatan dunia virtual, di mana kesadaran seorang santri yang lahir dan besar dalam tradisi pesantren mempunyai beban moral sosial dalam kehidupan media sosial.

Kita tentu masih ingat adigum al-muḥâfaḍatu ’alâ al-qadîmi al- ṣhâlih wa al-akhdu bi aljadîdi al-aṣlah yang sering didengar saat pengajian dan diskusi di emper masjid, atau bahkan ditempel di depan kamar santri. Di sinilah sebuah harapan akan perubahan dalam tradisi pesantren diharapkan. Tentu, sekali lagi dalam kubangan media sosial, santri hadir dengan membawa nilai-nilai luhur pesantren yang tidak kaku dan menyebarkan kedamaian.

Tinggalkan Balasan