Di Semarang, saya dikenalkan dengan sebuah organisasi yang berbasis Islam dan tertua di Indonesia. Saya mengikuti training yang menjadi syarat untuk menjadi bagian dari kader organisasi tersebut selama tiga hari. Saya mengikuti hingga jenjang kedua (maksimal tiga jenjang) dan mengikuti pelatihan non-formal untuk menjadi guru atau instruktur yang mengelola pelatihan kader untuk masuk menjadi bagian dari kader organisasi Islam yang saya ikuti.
Selama menjadi guru atau instruktur, saya menemukan banyak hal baru yang mungkin belum pernah saya temukan di pesantren-pesantren yang ada. Dan saya tidak sekritis sebelum saya bergelut dengan dunia perkaderan organisasi ini.

Saya kemudian bergaul dengan pemuda-pemuda Islam setingkat mahasiswa yang juga bukan dari kalangan pesantren. Saya merasa ada perbedaan yang begitu menonjol dalam hal pemahaman mereka tentang keislaman. Ya, Islam, agama yang nota bene mereka peluk kurang lebih dua puluhan tahun itu.
Sebelum mengikut forum pelatihan, seluruh calon peserta dites pemahamannya tentang empat hal. Salah satunya tentang keislaman. Dari banyaknya proses tes para peserta yang sudah saya ikuti, banyak dari mereka salah bahkan tidak tahu tentang agamanya sendiri, dan kebanyakan mereka dari kalangan non-pesantren atau bukan santri.
Di awal tes, saya selalu menanyakan pemahaman mereka tentang makna Islam. Mereka yang tidak tahu bahasa Arab pasti bingung dalam mengartikan apa itu Islam. Sebab, kata “Islam” itu berasal dari bahasa Arab yang kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia. Pemahaman dan pendapat mereka yang saya tes berbeda-beda. Ada yang hanya mengarang-ngarang dengan merangkai kata saja. Padahal, makna Islam itu sangat simpel sekali.
Islam itu berasal dari Bahasa Arab “Aslama-yuslimu-Islaaman” yang artinya menyerahkan diri jika kata kerja, penyerahan diri jika diubah menjadi infinitive. Maksudnya adalah menyerahkan diri kepada Allah Swt. Maka orang Islam juga disebut sebagai hamba atau budak Allah. Budak yang menyerahkan diri kepada Tuhan dengan cara menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Selain pemahaman tentang makna Islam yang kurang, mereka yang bukan santri juga banyak yang tidak tahu makna yang dibaca ketika salat. Padahal mereka yang mengaku Islam dan melakukan ritual salat selama lima kali sehari. Itu yang wajib. Belum terhitung yang dianggap anjuran atau sunnah. Dalam hati saya berpikir, lalu untuk apa mereka yang tidak paham makna bacaan salat tetapi melakukan itu? Hanya untuk terlihat beribadah saja?
