Santri dan Krisis Pemahaman Islam Mahasiswa

Doa-doa yang mereka panjatkan sehabis salat sehari-hari juga berbahasa Arab. Kebanyakan mereka juga tidak tahu apa yang mereka “aamiin”kan. Belum lagi kitab suci mereka yang dianggap sebagai petunjuk juga menggunakan bahasa Arab. Bukan bermaksud meremehkan, tapi itu memang benar adanya. Kebanyakan mereka yang mahasiswa muda yang saya temui merasa memeluk agama Islam, tapi tidak tahu ajarannya.

Akan tetapi, bukan berarti anak yang nyantri juga paham tentang makna Islam dan ajarannya. Mereka yang mengaku pernah nyantri dan belajar bahasa Arab juga beberapa kali saya temukan tidak tahu perihal makna Islam. Pikir buruk saya, mereka tidak serius dalam belajar bahasa Arab saat nyantri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Orang yang tidak pernah nyantri juga bisa dibagi menjadi dua. Pertama, yang tidak pernah belajar sama sekali bahasa Arab. Kedua, yang pernah belajar bahasa Arab tapi hanya sekilas. Pelajaran mereka hanya sampai dasar saja. Sama seperti pelajaran anak-anak kecil usia dini di Arab. Hanya belajar makna “ini” dan “itu” dalam bahasa Arab. Sisanya mereka lupa.

Melatih kecakapan berbahasa memang harus ada pembiasaan dan lingkungan yang mendukung. Guru saya pernah mengatakan, bahasa itu hanya perihal pembiasaan saja. Sebab, anak kecil, orang gila dan tukang-tukang di Arab itu bisa berbahasa Arab. Begitu juga anak kecil, orang gila di Inggris juga bisa berbahasa Inggris. Sebagai orang yang punya akal dan kesempatan untuk belajar, seharusnya mau belajar berbahasa lebih serius lagi.

Saya rasa, lingkungan yang tepat untuk berbahasa itu ada di pondok pesantren. Sangat jarang bahkan susah ditemukan fasilitas dan komunitas berbahasa yang fleksibel seperti di pesantren. Di banyak pesantren, ada struktur kepengurusan yang tujuannya membina dan mengembangkan bahasa para santri. Budaya berbahasa dan pelajar di kelas pun dekat sekali dengan bahasa khas Islam tersebut.

Maka dari itu, penting bagi saya, seorang muslim bisa berbahasa, khususnya bahasa agama. Dan saya rasa pondok pesantren adalah salah satu pilihan tepat. Agar agama itu dapat dipahami dan diamalkan dengan benar. Tidak hanya sekadar ikut-ikutan saja.

Santri yang juga mahasiswa seharusnya paham dan menguasai Bahasa Arab juga seharusnya memberikan pemahaman dan pembelajaran kepada orang-orang yang belum pernah belajar di pesantren, terkhusus para mahasiswa. Agar mahasiswa yang tidak mendapatkan pelajaran ke-Islaman di bangku perkuliahan juga dapat memahami Islam dengan baik. Wallahu a’lam bissowab.

Tinggalkan Balasan