Santri dan Mudik Lebaran

Sebagai seorang santri, saya pernah merasakan kebingungan dalam belajar ketika di pesantren dulu. Pertanyaan paling dasarnya adalah, kenapa santri diajarkan begitu banyak cabang keilmuan, mulai dari kitab-kitab fikih, nahu-saraf, mahfudzat, dan lain-lain. Belum lagi mata pelajaran umum di sekolah, yang mana saya dituntut untuk memahaminya.

Bagaimana bisa, seorang santri seperti saya, yang mempunyai kemalasan dan keterbatasan, dengan umur yang terbilang masih remaja, harus memadatkan otak dengan puluhan mata pelajaran, belum lagi kitab kuning yang menurut saya cukup rumit untuk dipahami.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keresahan tersebut kemudian saya tanyakan kepada kiai pimpinan pondok semasa aliyah itu. Kemudian, beliau memberikan jawaban yang cukup membuat saya sadar. Kira-kira seperti ini; “Banyaknya kitab yang kamu pelajari saat ini, adalah modal awal untuk di masa nanti setelah kamu selesai dari pondok. Syukur-syukur bisa mengerti semunya, kalaupun belum bisa, paling tidak, kamu tahu nama-nama kitab, pengarangnya, ajarannya, dan sanad keilmuannya. Supaya kamu tidak tersesat di masa yang akan dating.”

Dari jawaban tersebut, saya berpikir bahwa mempelajari ilmu tidak boleh berakhir setelah keluar dari pesantren, terutama ilmu-ilmu agama, dan pesantren, adalah fondasi awal agar santri tidak tersesat di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan