Santri dan “Ngalap Berkah” Kiai yang Dipandang Feodal

Bagi saya pribadi, terserah stigma apa pun yang digambarkan oleh pihak lain, kiai tetap menjadi simbol ketawadhu’an dan ilmu yang bersanad. Sehingga tentu saja berebut air dari sisa minum kiai menjadi hal yang patut disebarkan ke yang lain bahkan dunia, karena ada banyak kebaikan di dalamnya. Kaum intelektual yang memberi lambang feodal pada tingkah laku santri di pesantren hanya bisa melihat semua sisi secara empiris. Empiris berarti bahwa semua data harus bisa dijelaskan dengan hal yang masuk akal dan berteori. Sedangkan, mencari berkah dengan mencium tangan kiai tidaklah empiris. Mencium tangan kiai melebihi jangkauan ilmu manusia. Kami, santri, hanya mengetahui bahwa tangan yang kami cium adalah tangan yang senantiasa memegang kitab dan digunakan dalam kebaikan. Air minum sisa dari kiai yang ada di gelas, adalah dari mulut seorang hamba Allah yang senantiasa berdzikir dan mengingat Allah, pasti dalam mulutnya selalu ada kebaikan dan keberkahan.

Tentu saja hal yang demikian tidak kami lakukan untuk sembarang orang. Kami, santri, tidak meminum air dari sisa minum pejabat atau pengusaha. Kami, para santri, tidak berlomba mencium tangan dari seorang kaya raya. Kami mengetahui naluri hati kami, bahwa yang berhak dan patut untuk didapatkan adalah berkah Allah melalui kiai yang setiap harinya mengajarkan ilmu Allah kepada kami.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lantas, di mana salah santri jika kesopanan dan adab Timur diperdebatkan? Dan yang paling menyedihkan, jika konsep berkah saja tidak bisa dijelaskan oleh kaum intelektual yang memuja empirisitas, lalu bagaimana mereka bisa mengklasifikasikan kami sebagai pelaku feodal?

Tinggalkan Balasan