Santri dan Nilai-nilai Pesantren

Oleh karena itu, tidak aneh jika Faizin dan Farhah dalam sebuah jurnal dengan tulisan berjudul Pola Integrasi  Nilai-Nilai Kepesantrenan dalam Mengimplementasikan Budaya Religi mengungkapkan nilai pesantren melikupi banyak macam.

Di antaranya adalah, pertama, kesadaran beragama. Di samping belajar tentang kajian keislaman, santri juga dituntut untuk mampu mengejawantahkan ilmu yang diperoleh pada aksentuasi kehidupan dengan mencerminkan sifat saling menghargai terhadap sebuah perbedaan. Sikap toleransi atas pemikiran agama dibuktikan dengan tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Santri juga harus mencerminkan bagaimana agama Islam sangat ramah dan toleran terhadap agama lain. Inilah poin mendasar kenapa seorang santri harus mengamalkan konsep Al Wa’yu Al Diniy (kesadran beragama) yang akhir-akhir ini dibenturkan dengan nasionalisme, kebangsaan, maupun patriotisme.

Kedua, kesadaran berilmu. Adalah menjadi rahasia umum bahwa santri zaman sekarang tidak sama dengan santri zaman dahulu. Perbedaan ini salah satunya adalah zaman maupun arus teknologi semakin kencang yang menuntut santri ikut berperan menyebarkan informasi yang baik.

Semangat nasrul ilmi (menyebarkan ilmu) menjadi harga mati karena di samping landasan teologis juga tuntutan zaman untuk terus mencari ilmu tidak bisa dihindarkan. Memang benar bahwa santri idealnya memahami kajian Islam secara komprehensif an sich. Tetapi, santri tidak boleh terlena dengan keadaan zaman yang mau tidak mau memaksa santri terjun serta mengamalkan ilmu yang sudah didapatnya dengan cara yang arif-bijaksana saat bersentuhan dengan media sosial.

Tinggalkan Balasan