Santri dan Nilai-nilai Pesantren

Tidak berlebihan jika Abuya Sayyid Alawi mengatakan bil ilmi irtafa’, bil khidmati intafa’ (dengan ilmu, manusia akan diangkat derajatnya sosial, intelektual, dan spiritual oleh Allah; dan dengan mengabdi, manusia mendapatkan ilmu bermanfaat untuk dirinya dan sekitar).

Ketiga, kesadaran bermasyarakat. Bagaimanapun kondisinya, santri-pesantren-kiai tidak akan lepas dari komunitas yang bernama masyarakat. Dari masyarakat juga, santri berkembang dan tumbuh dengan dinamika yang terjadi di tengah masyarakat. Santri harus paham masyarakat mempunyai karakter, adat, dan budaya tertentu. Oleh karenanya, tidak fair eksistensi santri di belantika pesantren kurang mampu menjalankan tugasnya sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah masyarakat yang plural, multicultural, dan variatif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keempat, kesadaran berbangsa dan bernegara. Point al wa’yu lil sya’b merupakan aspek penting yang tidak hanya bagi santri di Indonesia. Melainkan, santri seluruh dunia akan bahu membahu mencintai bangsa dan negara. Para kiai berada tepat di garis terluar mempertahankan keutuhan dan kedaulatan negara melalui pendidikan pesantren. Dari pesantren, para santri ditanamkan jiwa nasionalisme dengan pendekatan doktrinal maupun empiris dengan mengaca pada bagaimana perjuangan para santri dalam mengusir penjajahan yang terjadi di masa silam.

Kelima, kesadaran berorganisasi. Santri dan kiai tidak lupa “tragedi Hijaz” saat itu dipimpin oleh Syarif Husain yang hancur karena agitasi dari pihak luar. Bukan karena tidak berpendidikan atau tidak adanya orang hebat, tetapi penguasa Hijaz saat itu tidak meregulasikan konsep berorganisasi sehingga mudah untuk dihancurkan meskipun kuat dan kokoh dari internalnya.

Kejadian tersebut sering diulas oleh Maulana Habib Lutfi di sela-sela ceramah maupun pengajian di Kanzuz Sholawat. Tragedi Hijaz mengingatkan betapa pentingnya sebuah organisasi agar tetap kokoh dan solid dalam menyalurkan sebuah target yang ingin dicapai. Ini jelas sekali tercermin bagaimana santri, kiai, dan pesantren di Indonesia terlibat dalam sebuah organisasi, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Tinggalkan Balasan