Dengan tiga kombinasi antara olah raga (jasmani), identitas budaya, dan olah batin (rohani) inilah pencak silat sangat melekat kepada masyarakat Indonesia, terutama para santri. Tidak sedikit santri yang juga bergabung dalam perguruan pencak silat. Pencak silat itu memang sangat berguna bagi para santri terutama dalam hal pengembangan pendidikan mental juga spiritual, di mana termasuk untuk mewujudkan budi pekerti yang luhur. Di sini, pencak silat bukan hanya sebagai sarana olah raga, melainkan juga sarana mengembangkan akhlak yang luhur, sikap ksatria, dan takwa kepada Sang Pencipta.
Biasanya santri yang juga bergabung dengan perguruan pencak silat akan bisa menyeimbangkan ilmu-ilmu yang didapatkan di pondok pesantren dan semiotika dalam setiap gerakan pencak silat. Oleh karena ini, output santri saat bergabung dengan pencak silat sebenarnya adalah output yang bermanfaat untuk masyarakat, yaitu untuk menghindari hal yang munkar dan membawa diri dan lingkungan kepada jalan yang haq.

Saya jadi teringat kisah seorang santri yang berhasil mengalahkan dua begal dengan membawa celurit pada 2018. Dua begal dengan senjata tajam itu rupanya salah sasaran. Mereka harus berhadapan dengan Irfan, seorang santri dari Pondok Pesantren Darul Ulum Pamekasan, Madura. Irfan bukanlah santri biasa. Ia seorang santri yang menguasai seni bela diri. Dua begal bersenjata tajam pun keok di tangan Irfan seorang diri. Bahkan, Irfan berhasil merebut senjata tajam yang dibawa pelaku.
