Kisah ini membuktikan bahwa prinsip yang diajarkan dari pondok pesantren dan prinsip dari perguruan pencak silat sangatlah seirama, sehingga dua hal ini dapat menyeimbangkan. Memang sebenarnya pencak silat bukanlah digunakan untuk berkelahi. Pencak silat justru digunakan agar tidak ada perkelahian. Dan santrilah salah satu subjek yang bisa menyeimbangkan emosi spiritual dan logika sehingga tidak menyalahgunakan kemampuannya untuk kepentingan-kepentingan dekstruktif.
Di dunia silat sebenarnya ada anecdote, bahwa prinsip silat itu adalah ‘ngalah-ngaleh-ngamuk’. Maksudnya, seseorang yang mempunyai keahlian bela diri jika ada yang menantangnya, maka sebagai seorang pendekar ia akan mengalah, karena jika ia sungguh-sungguh, maka ia sadar lawannya akan kalah. Dan, jika sudah ngalah namun lawannya tidak tahu diri dan terus mengejar atau bertindak kurang ajar kepadanya, maka langkah kedua adalah ngaleh, pergi meninggalkan lawan itu agar tidak terjadi hal-hal yang dekstruktif. Namun, jika sudah pergi tapi lawan masih saja memburunya, maka untuk memberi efek jera kepada lawan, ngamuk adalah alternatif, agar lawan dapat mengambil pelajaran.

Siapa yang bisa mengendalikan emosi dan menyeimbangkannya agar selaras dengan ilmu yang sudah diajarkan di pondok pesantren? Tentu saja para santri. Jadi, sebenarnya santri menguasai pencak silat merupakan hal yang wajar, bukan?
