Itu artinya, penulis bukan anak kecil lagi. Jika di rumah sudah merasa malu untuk bermain kelereng. Tetapi, karena di pondok, hanya dilihat oleh teman-teman sesama dan sebaya, maka tidak perlu ada rasa risih. Bahkan teman bermain pun sama, sama-sama dewasa untuk bermain kelereng.
Di pondok, kesempatan bermain sangat terbatas. Apa pun yang bisa menjadikan pikiran rileks, santai, maka hal itu dapat dilakukan. Termasuk bermain kelereng yang biasanya hanya dimainkan oleh anak-anak yang masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Perlu digarisbawahi bahwa permainan kelereng ini tidak ada sama sekali kaitannya dengan judi. Jadi, sekadar bermain-main santai untuk terlepas dari kejenuhan kegiatan pondok keseharian.

Kalau diingat sekarang, rasanya malu sih, sudah duduk di MA, kok masih bermain kelereng. Tetapi pada saat itu tidak ada rasa malu ataupun risih. Semua berjalan secara normal. Itu, mungkin, disebabkan karena teman bermainnya sebaya. Jadinya tidak ada rasa jengah atau rasa tidak enak atas sebuah permainan.
Olah Raga
Perminan yang mungkin juga dilakukan untuk melepas penat oleh kegiatan pesantren adalah olah raga. Ada banyak olah raga yang dapat dilakukan, dari yang murah tanpa biaya, hingga yang lebih mahal. Olah raga yang murah meriah seperti lari atau jalan-jalan (jogging). Biasanya penulis dan beberapa santri lainnya, di pagi hari atau sore hari, menyusuri jalan beraspal di sekitar pesantren. Berjalan sekira satu sampai satu setengah kilometer, kemudian kembali secara bersama-sama. Rasa-rasanya begitu indah, karena kegiatan ini tidak dapat dilakukan setiap hari disebabkan oleh berbagai hal.
Selain jalan-jalan (jogging), ada beberapa olah raga lainnya yang dilakukan oleh santri tertentu. Semisal bulu tangkis yang memerlukan raket, net, dan kok. Bagi seorang santri, yang memiliki keterbatasan finansial tentu akan sangat memberatkan. Termasuk penulis yang tidak pernah menyentuh olah raga ini karena keterbatasan biaya. Padahal penulis juga hobi dengan permainan yang cukup mendunia ini.
