Santri dan Permainannya

Sepak bola juga kadang dimainkan di dalam lokasi pesantren yang sangat terbatas. Maka bola yang digunakan pun bola plastik yang harganya murah dan terjangkau oleh santri. Ada juga tenis meja (olah raga ini hanya sesekali diaminkan di pondok penulis) dan permainan tradional lainnya dengan format yang telah disepakati. Seperti can-macanan, dhindha’an, rek-tarekan, dan lain sebagainya.

Kelompok Tadris

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebenarnya ini bukan sebuah permainan. Akan tetapi dalam pengalaman penulis, kelompok tadris cukup memberikan refreshing karena dapat berinteraksi secara lebih dekat dengan ujaran opini yang dimiliki. Kelompok ini banyak sekali dilakukan oleh kalangan santri. Dalam waktu-waktu tertentu, di luar waktu kegiatan pondok, kami berkumpul untuk mendiskusikan suatu materi pelajaran. Biasanya penulis mendiskusikan tentang ilmu nahu. Ilmu ini dipandang sebagai pelajaran unggulan, karena skill pengetahuan ini menjadi dasar dalam pembacaan kitab kuning.

Nah, karena kita sebaya, jadi lebih berani untuk mengungkapkan gagasan terkait dengan nahu, yang pada akhirnya kami lebih memahami bagaimana cara membaca kitab yang benar. Bahkan dalam prakteknya, kegiatan ini dilakukan dengan sangat santai dan tanpa beban. Itulah sebabnya mengapa kelompok tadris, penulis masukkan dalam sebuah kegiatan refreshing.

Hakikatnya, seorang santri dapat melakukan relaksasi di antara sekian kegiatan yang begitu padat. Artinya, di sela-sela kegiatan pondok masih ada kesempatan untuk melakukan permainan. Tentu saja permainan di sini diniatkan agar dalam menghadapi kegiatan pesantren (belajar) semakin bergairah dan tidak merasa jenuh.

Inamal a’malu bin niyyat, bahwa sebenarnya perbuatan itu tergantung niatnya. Jika sebuah pernainan diniatkan baik, demi menjaga kebugaran untuk semakin gairah dalam belajar, bukan tidak mungkin permainan itu mendapat pahala dari Allah swt. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan