Membedakan Alat dan Tujuan
Ilmu alat adalah sarana untuk memahami teks. Tapi memahami dunia membutuhkan lebih dari sekadar memahami teks. Dunia ini tidak tertulis dalam bentuk syair atau matan, melainkan dalam bentuk realitas sosial yang kompleks: relasi kuasa, dinamika gender, politik identitas, kapitalisme digital, dan banyak lagi.

Bayangkan jika seorang ahli nahu mencoba membaca persoalan radikalisme hanya dari tarkib kalimat atau fi’il madhi. Atau, seseorang yang mengandalkan saraf untuk menilai kompleksitas praktik atau laku sosial keagamaan dalam masyarakat urban. Tentu pendekatan seperti ini akan menemui jalan buntu.
Untuk memahami itu semua, kita butuh ilmu sosial, antropologi, filsafat, sosiologi pengetahuan, bahkan kajian gender dan media. Semua ini bukan untuk menggantikan ilmu alat, tapi melengkapinya.
Otoritas Bukan Berarti Kekebalan Kritik
Sebagian orang menganggap kitab-kitab pesantren tidak boleh dikritik kecuali oleh mereka yang menguasai sanad dan ilmu alat secara mendalam. Tapi kita juga harus jujur: tidak semua yang ditulis dengan bahasa Arab gundul itu benar secara mutlak. Boleh jadi kitab-kitab tersebut dijadikan pijakan jika memang layak, pun tidak menutup kemungkinan untuk membatasinya jika terkesan membahayakan bagi awam.
