Apalagi jika kita membahas hal-hal yang menyentuh tubuh manusia, seksualitas, atau hubungan gender, maka pendekatan empiris dan interdisipliner menjadi sangat penting. Menulis tentang tubuh perempuan, misalnya, bukan sekadar perkara fikih dan hadis, tapi juga perkara etika, keilmuan, bahkan kesehatan masyarakat.
Mengaji dan Membaca Dunia

Tantangan santri hari ini bukan hanya menghafal Alfiyah atau memahami Jawahirul Balaghah, tetapi juga mampu membaca realitas dengan jernih. Dan realitas itu tidak selalu bisa dijelaskan dengan qiyas atau kaidah ushul, tapi juga dengan observasi, riset, dan dialog lintas keilmuan.
Kita bisa tetap salaf, tetap menjaga adab, tetap cinta turats. Tapi kita juga harus rendah hati untuk belajar dari ilmu lain. Bahkan Imam al-Ghazali sekalipun tidak menutup diri dari filsafat dan logika Yunani. Lalu mengapa kita, yang ilmunya jauh di bawah beliau, merasa cukup dengan hanya satu jalan?
Sekali lagi mungkin amat sangat perlu saya tegaskan, bahwa ilmu alat memang penting, sangat penting. Tapi ketika digunakan sebagai satu-satunya kacamata untuk memahami dunia Islam hari ini, kita justru sedang membatasi potensi keilmuan kita sendiri. Di sinilah letak tantangan besar santri hari ini: bukan sekadar menjaga tradisi, tapi juga merawat keberanian untuk menyeberang dan belajar dari luar.
Karena Islam tidak hanya tentang menghafal yang telah lalu. Kita sebagai pewarisnya juga selalu siap dan siaga untuk membaca yang sedang terjadi, bahkan merumuskan masa depan agar kehidupan tetap seimbang. Sehingga misi Islam pun sebagai Rahmah bagi alam semesta mampu terealisasikan, tidak hanya sebagai cita-cita belaka.
