Santri dan Tradisi Berfilsafat

Hikmah Filsafat

Ciri-ciri orang yang berfilsafat adalah berpikir radiks. Secara harfiah, berpikir radiks berarti sampai ke akarnya. Artinya, mencoba mencari kebenaran itu sampai dipahami benar bahwa itu adalah hakikat kebenaran. Mencari logika ilmiahnya, dalil-dali dan dasar pendukungnya, sehingga diketahui secara nyata bahwa itu adalah kebenaran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ciri berpikir filsafat lainnya adalah kritis, yaitu tanggap terhadap persoalan yang berkembang dan yang diketahuinya atau bahkan mendatanginya. Kemudian, konseptual, rasional, dan reflektif, jugan menjadi ciri khas orang yang berpikir filsafat. (Nurani Soyomukti, 2011, Pengantar Filsafat Umum).

Koheren dan konsisten (runut) artinya proses pemikiran hingga melahirkan produk (kebenaran) yang logis sesuai dengan kaidah ilmiah. Komprehensif, sistimatis, dan metodis, juga merupakan karakter dari seorang filusuf. Sebuah pemikiran yang tidak parsial, tetapi menyeluruh mengenai berbagai aspek kehidupan.

Ahmad Hafidz dalam sebuah artikelnya, menjelaskan, bahwa ada beberapa hikmah dalam belajar filsafat. Pertama, seseorang dapat memaknai makna hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi maupun sosial.

Kedua, dengan berfilsafat manusia selalu dilatih dan dididik untuk berpikir secara universal, multidimensional, komprehensif, dan mendalam. Sehingga akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan objektif dalam melihat dan memecahkan beragam problema kehidupan, sehingga mampu meraih kualitas, keunggulan ,dan kebahagiaan hidup.

Ketiga, menggapai kebijakan dan nilai. Nilai diperoleh dengan berpikir mendalam. Nilai itu penting untuk mengatur kehidupan. Keempat, menggapai kebenaran. Filsafat adalah jalan menggapai kebenaran karena proses berpikir mendalam itu pada dasarnya adalah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana suatu kenyataan bisa terjadi. Jika kita tak memahami kenyataan berdasarkan kenyataan, itu adalah suatu kesalahan, dan ini biasanya terjadi saat orang tidak berfilsafat, atau pada saat orang menilai sesuatu seenaknya saja.

Kelima, memahami diri sendiri dan masyarakatnya: menghilangkan egoisme, meningkatkan kesadaran kolektif. Keenam, filsafat untuk mengubah kehidupan. Artinya, dengan filsafat orang akan terdorong untuk mengubah segala sesuatu yang ternyata telah jauh menyimpang dari nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini, berarti bahwa filsafat juga tak dapat dipisahkan dari kerja mengubah kehidupan.

Kalau penulis perhatikan dari hikmah mempelajari filsafat dapat dijelaskan bahwa secara keseluruhan benar-benar sesuai dengan karakter seorang santri. Di mana, santri selalu mencari kebenaran dengan logika ilmiah. Santri juga dibiasakan mandiri serta melakukan segala aktivitas sesuai dengan kaidah syari. Itu artinya, sejak awal di pesantren telah diajarkan nilai-nilai falsafah agar menjadi kebiasaan dalam berpikir kritis dan logis.

Bukan sekadar melakukan aktivitas keseharian tanpa menggunakan logika. Tetapi dibiasakan untuk sistematis sesuai dengan prinsip ilmiah. Maka dengan demikian, santri sejak awal tidak lepas dengan kaidah-kaidah filsafat. Disadari atau tidak, filsafat telah berkelindan di seputar lingkungan pesantren. Wallahu A’lam! 

Tinggalkan Balasan