Santri dan Tukang Gergaji

Siapa sesungguhnya santri? KH Hasyim di Pondok Pesantren az-Zahra, Kabupaten Jepara, pernah menjelaskan, kata santri berasal dari lima huruf Arab: sin, yaitu salik fil ibadah (tekun dalam beribadah); na’ibun ani syuyukh (penerus para sesepuh); ta’, ta’ibun ‘ani dzunub (tobat dari kesalahan-kesalahan); raghibun fil khoirot (senang dengan kebaikan); dan yaqin ‘ala man ‘an ‘amalahu ma’ah (yakin rezeki sudah ada yang mengatur).

Seperti lazimnya lembaga pendidikan, umumnya pondok pesantren juga menentukan soal iuran untuk biaya bangunan, listrik, makanan. Namun, berbeda dengan Pesantren Dar el-Fikr, terletak di Desa Serua, Depok, Jawa Barat, yang notabene dekat dengan Ibu Kota. Setiap santri yang hendak masuk ke pesantren ini pasti terkaget-kaget karena tidak ada uang gedung, uang listrik, bahkan makan pun santri pun ditanggung kiai dan bu nyai. Semuanya. ”Lho, kok kang mas di sini ga bayar?” tanya calon santri kepada pengurus pondok.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Nggih, di sini Pak Kiai dan Bu Nyai tidak narif sepeser pun bila masuk pondok?” jawab pengurus.

“Tapi, kan, di sini santrinya ada 40-an yang dewasa, lalu dari mana Kyii bisa ngasih makan, bayar listrik, bangunan pondok, kalau uangnya ga ditambah iuran santri?” tambah sari (sambil garuk kepala).

Tinggalkan Balasan