”Begini lho, mas. Kiai itu kalau udah wushul ilallah, ikhlas ngajarin santri, cuma ngarepake ridhone Gusti. Insya Allah rezeki Allah yang ngatur, tahu-tahu ada orang ngirim beras, orang transfer uang, macam-macam. Namanya rezeki min haitsu la yahtasib. Tapi kalau Kiai taatnya sudah tak mengenal manusia, tawakkal tak mengharap imbalan manusia, ikhlasnya seperti saudagar kaya, tak pandang bulu, tak tebang pilih, yo kalau santri kaya kita paling nasi padang dari arah tak terduga,” tawa kang pengurus.
“Ini saja aku dan kawanku yang kemarin Lebaran di pondok dikasih baju koko plus sarung sama Pak Kiai. Kurang baik apa coba Pak Kiai sama santrinya. Udah dapat ilmu, makan gratis, tidur nyenyak. Kadang dikasih pakaian. Tapi ingat le, kalau sudah mondok di sini harus selesai setoran sampe 30 juz. Jangan coba-coba niat keluar di tengah-tengah jalan, kalau ingin ilmunya bermanfaat di masyarakat banyak.”

Sesuai dengan makna santri yang kelima, santri tidak usah cemas soal rezeki, karena ia sudah ada yang mengatur. Begitu juga dengan kiai yang mengayomi para santri, tentu sudah Allah jatah sesuai dengan santri yang mondok.
