Pakdhe kemudian melanjutkan kisahnya. Suatu ketika, karena dipaksa kewajiban untuk menyempurnakan syariat Islam, Sang Susuhunan meninggalkan murid-muridnya untuk sementara waktu menjalankan ibadah haji. Syahdan, kepergian sang guru membuat hati Sonhaji gelisah dan rindu. Betapa tidak, sang guru adalah alasan paling utama ia lebih bersemangat untuk tetap mondok dan berbakti. Dan kehilangan sang guru lebih mengerikan, menurutnya, daripada kehilangan apa pun.
Sampai suatu ketika, dalam gelisan dan rindu yang menggebu itu, Sonhaji merasa hidupnya hambar setelah ditinggal Sang Sunan. Dalam kebimbangan itu tiba-tiba ia membulatkan tekad untuk menggali lubang serupa liang lahat. Ia memakai kain mori, memejamkan mata dan berkata dalan hati, “lebih baik aku tidur di sini saja sembari menunggu datangnya simbah guru, daripada aku hidup dalam rindu dan kesengsaraan.”

Di tengah suasana sunyi liang lahat yang telah ia buat sendiri itu, tiba-tiba datang sesosok yang mengaku jin dari gunung Himalaya. Bukannya takut, Sonhaji malah menanyainya, “Untuk apa kau ke mari? Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu siapa pun, aku hanya ingin menunggu dan bertemu guruku. Aku rindu.”
Singkat cerita, karena rasa cinta dan pengabdian Sonhaji yang begitu kuat pada Sang Sunan, ia dilimpahi anugrah. Ia dicintai gurunya dan juga dicintai oleh Allah. Karomah kewalian sosok Sonhaji ini kemudian masyhur dan dikenang oleh santri-santri lainnya. Begitulah cerita Pakdhe ketika Udin berkunjung ke gubuk bambu. Semoga santri-santri bisa mengikuti jejak Sonhaji.
