“Iya, kak, aku sudah bilang, tapi ibu tetap tidak yakin, gimana kak?” dia tambah merintih sambil sesekali menyeka air mata. Kemudian minta tolong kepada saya untuk memberi argumen kepada ibunya, mengenai khidmahnya di media pesantren dan madrasah.
Kemudian saya Memberi argumen, sekiranya seperti ini, “Nanti bilangin ke ibumu, khidmah di media pesantren itu mengandung profit baik secara material lahiriyah, maupun suprantural batiniyah. Di Elmahrusy, media tempatamu khidmah ini, kamu akan mendapatkan banyak ilmu yang bahkan sulit didapat di sekolah luar. Bila kamu menekuni, dari segi material, kamu berpotensi bisa menulis, karena ada wadah berupa majalah dan website. Lalu juga bisa belajar desain grafis, fotografi, videografi, dan karikatur. Untuk menjadi news anchor juga difasilitasi ketika liputan-liputan acara pengajian itu. Artinya, di sini kamu bisa mendapatkan semua ajaran-ajaran dasar media, tanpa perlu boyong. Belum lagi relasinya juga luas, tahu sendiri kan di Al-Mahrusiyah suka kedatangan tamu-tamu besar dan acara-acara skala nasional? Iya enggak, coba renugkan?”

Sindu terdiam.
Kemudian saya melanjutkan, “Hebatnya lagi Sindhu, di luar kesibukan khidmah, kamu masih wajib madrasah dan sekolah, bayangin tiga ilmu bisa kamu kuras di sini, entah ada habisnya apa tidak. Ilmu ekstra, ilmu nonformal, dan ilmu formal, bisa kamu mendapatkan tiga ilmu ini di luar pesantren Al-Mahrusiyah? Dan satu lagi yang penting, yaitu barokah. Tahu sendiri kan khidmah tiada hubungannya dengan upah, melainkan barokah. Barokah inilah yang kusebut profit dhohiriyah supranatural tadi, dan ingat pula Sindhu, boyong dari pesantren tidaklah mudah, kamu masuk ke sini diantar keluarga dan matur ke Gus Reza, kalau mau boyong pun demikian, musti izin baik-baik bareng keluarga lagi. Kok tiba-tiba boyong tanpa izin Gusnya meskipun pihak sekolah acc, dan Gusnya ternyata tidak rida bisa jadi ilmu yag kau dapat tidak barokah.”
“Iya kak, Emang barokah itu gimana kak konsepnya?”
“Kalau saya terangkan sekarang tentang barokah, tidak cukup waktunya, yang penting argumen di atas sampaikan ke ibumu.”
Sindhu tampak sudah tenang, entah kapan dia menelepon orang tuanya, karena akses telepon di pondok teramat terbatas. Karena gedung tempat kami rapat akan dipakai kelas madrasah, kami berpamitan siang itu.
